Drs. Bandono, MM

Guru Pembimbing dan Koordinator TIK SMA Negeri 7 Yogyakarta

Dengan Merangkak Peta, TIK Seveners Mencapai Level Mapan

Tuesday Pon, 5 June 2007 — Seveners

Lebih kurang 4 tahun silam, SMA Negeri 7 Yogyakarta pada tahun pelajaran 2002/2003 ditunjuk sebagai sekolah mini piloting pelaksanaan Kurikulum dan Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi dari Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Umum Depdiknas. Pada tahun pelajaran tersebut memasuki tahun pertama sasarannya baru kelas X (kelas I) yang di dalamnya ada tuntutan untuk Meningkatkan mutu SDM melalui pendidikan berkualitas yang ditentukan oleh keberadaan intelectual capital dalam wujud penguasaan ilmu pengetahuan.

Dalam perjalanan tahun pelajaran 2006/2007 pemerintah telah menerbitkan PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional. Lingkup Standar Nasional Pendidikan seperti yang tersebut pada Pasal 2, Ayat 1 meliputi: Standar Isi, Standar Proses, Standar Kompetensi Lulusan, Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan dan Standar Penilaian. Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Sedangkan tujuannya adalah menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.

Penjabaran PP Nomor 19 Tahun 2005 tersebut, BSNP telah menyusun dua Standar Nasional Pendidikan yaitu Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Kedua standar tersebut telah tertuang dalam Permendiknas No. 22 (Standar Isi) dan 23 (Standar Kompetensi Lulusan) tahun 2006, dilengkapi dengan Permendiknas No. 24 tentang Pelaksanaan Permendiknas Nomor 22 dan 23 tersebut. Sebagai implementasi dari kedua standar tersebut, sekolah bertanggungjawab untuk mengembangkan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi kedalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Disadari bahwa KTSP merupakan kebijakan baru yang secara teknis penyusunannya perlu disosialisasikan secara intensif khususnya kepada Guru.

Dalam perspektif KTSP guru SMA Negeri 7 Yogyakarta diharapkan mampu membaca perkembangan kurikulum yang mengarah pada inovasi dimana KTSP salah satu pendekatan menggunakan (Life Skill dan Broad Based Education -BBE) untuk memposisikan peran pendidikan di sekolah untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang perlu dipecahkan yang berhubungan dengan komponen pendidikan yaitu dari raw input, proses, instrumen, environment sampai dengan outputnya. Dalam konsep KTSP membuat beberapa pendekatan yang perlu dipahami oleh guru SMA Negeri 7 Yogyakarta untuk bekal dilapangan sebagai pelaksana secara menyeruh agar tidak salah dalam penafsiran sebuah konsep yang berhubungan dengan kecakapan hidup yaitu life skill meliputi kecapakan personal, kecakapan sosial, akademik dan vokasional sampai mengarah kepada general life skill (kecakapan Generik) dan specific life skill ( kecakapan spesifik).

Dalam konsep KTSP perlu mengantisipasi dampak global yang membawa masyarakat berbasis pengetahuan di mana IPTEK sangat kental sebagai penggerak utama perubahan. Pendidikan harus terus menerus melakukan adaptasi dan penyesuaian perkembangan IPTEK sehingga tetap relevan dan kontekstual dengan perubahan. Oleh karena itu, kurikulum harus dikembangkan secara berkala dan berkesinambungan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Mengubah SMA di Indonesia menjadi institusi pembelajaran yang kreatif dan dinamis dimana murid-murid menjadi pembelajar yang lebih termotivasi, selalu ingin tahu, dan kreatif yang berbasis ICT (Information and Communication Technology).

Melihat kenyataan dan keberadaan kurikulum yang mau tidak mau, suka atau tidak suka TIK Seveners dari tahun pelajaran 2003/2004 sampai sekarang ikut membantu merubah kultur dan manajemen media pembelajaran dengan mengubah pembelajaran yang berorientasi pada TIK dengan berbagai usaha, salah satunya menyediakan prasarana dan fasilitas TIK untuk murid dan guru yang memungkinkan mereka mengakses informasi. Mendorong pemain kunci dalam sistem sekolah dalam menjalankan peran baru mereka, terutama dalam hal ini adalah guru dituntut untuk mengintegrasikan TIK dalam pendidikan sekolah melalui kurikulum yang sesuai dan dukungan sumber daya dengan konsep merangkak PETA yaitu sebuah konsep gerakan pelan tapi pasti menuju sasaran dengan melihat kanan, kiri depan belakang menuju sasaran. Sehingga dengan konsep tersebut dari supervisi yang dilakukan oleh TIM Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Pelaksanaan Program Rintisan Pengembangan TIK/ICT SMA Negeri 7 bersama-sama dengan 108 SMA seluruh Indonesia mencapai level MAPAN. Dengan penilaian sebagai berikut:

Tabel Penilaian

5 tanggapan

  1. Dengan Merangkak Peta, TIK Seveners Mencapai Level Mapan by Koran Seveners — 5 June 2007 pukul 14:36 WIB

    […] NB: Dipublikasikan dengan isi materi yang sama dengan link utama. […]

  2. LikWarjo — 5 June 2007 pukul 14:48 WIB

    Ruarr biasa perkembangan SMU 7 hingga saat ini. Berkat pemikiran juragan-juragan dan bos-bos di SMA7, saat ini SMA7 dah sampe level mutakhir. BIG WOW.
    Tingkatkan terus bos!.

  3. meenan — 6 June 2007 pukul 13:52 WIB

    Waw…. tidak hanya luar biasa… tapi kami sebagai siswa boleh berbangga hati, karena cap SMA 7 sebagai sekolah pinggiran malah bisa punya TIK yang mapan…
    Lanjutkan perjuangan ya pak… akan kami bantu… karena kami bangga menjadi Siswa-siswi SMA 7 Yogyakarta, Bhakti Taruna Sejati…

  4. chiea — 14 June 2007 pukul 7:07 WIB

    Great School!
    Well, would SMA7 mind if I make a research in this school about teaching English using Internet (TIK)?

  5. yoyoke — 12 October 2007 pukul 16:20 WIB

    Dasyat Pak, dasyat,,,!!! Sebelumnya saya berkunjung ke http://www.seveners.com. Ada rasa kangen,,,ada rasa bahagia,,,ada rasa bangga. Jauh lebih maju dari tahun 2003 dulu,,,hoho

Silakan berkomentar melalui formulir berikut: