Drs. Bandono, MM

Guru Pembimbing dan Koordinator TIK SMA Negeri 7 Yogyakarta

Tantangan Perguruan Tinggi dalam Era Persaingan Global

Wednesday Pon, 12 December 2007 — Pendidikan

Bertepatan Dies Natalis ke 45 Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) merasa bangga dan bahagia karena mendapat kehormatan dari Bapak Prof. Dr. H. Mohamad Surya Ketua Umum PB PGRI yang telah memberikan orasi ilmiah dihadapan rapat terbuka Senat Universitas PGRI Yogyakarta dan para wisudawan wisudawati di Graha Sarina Vidi Yogyakarta Selasa 11 Desember 2007

Orasi Ilmiah dalam rangka Wisuda Sarjana dan Dies Natalis ke 45 Universitas PGRI Yogyakarta yang berjudul Tantangan Perguruan Tinggi Dalam Era Persaingan Global, lebih istimewa lagi acara ini masih berlangsung dalam suasana memperingati Hari guru Nasional 2007 dan hari Ulang Tahun PGRI ke-62 yang mengsung tema “Guru Profesional dan Sejahtera untuk Pendidikan Bermutu” mudah-mudahan akan membawa hikmah tersendiri bagi dunia pendidikan pada umumnya.

Sesuai dengan judulnya orasi ini akan mengemukakan hal-hal yang berkenaan dengan keterkaitan antara tantangan terhadap perguruan tinggi di era global yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang penuh dengan tantangan persaingan. Tantangan yang akan datang cepat atau lambat pada gilirannya harus dihadapi dengan peningkatan kualitas perguruan tinggi selaku lembaga pendidikan yang harus menghasilkan sumberdaya manusia yang berkualitas dan memiliki keunggulan dalam berbagai aspek kehidupan.

Perguruan tinggi merupakan salah satu subsistem pendidikan nasional yang tidak dapat dipisahkan dari subsistem lainnya baik di dalam maupun diluar sistem pendidikan. Keberadaan perguruan tinggi dalam keseluruhan kehidupan berbangsa dan bernegara, mempunyai peran yang amat besar mellaui tri dharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional dikatakan bahwa Perguruan Tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (pasal 20 ayat 2).

Melalui dharma pendidikan perguruan tinggi harus mampu memberdayakan proses pendidikan yang sedemikian rupa agar seluruh mahasiswanya berkembang menjadi lulusan sebagai sumber daya manusia berkualitas yang memiliki kompetensi paripurna secara intelektual, profesional, sosial, moral dan personal. Dharma kedua yaitu penelitian, perguruan tinggi harus mampu mewujudkan sebagai satu institusi ilmiah akademik yang daapt menghasilkan berbagai temuan inovatif melalui kegiatan-kegiatan penelitian. Melalui penelitian ini perguruan tinggi dapat mengembangkan dirinya serta memberikan sumbangan nyata bagi pengembangan bidang keilmuan dan aplikasi dalam berbagai upaya pembaharuan. Selanjutnya melalui dharma ketiga yaitu pengabdian keberadaan perguruan tinggi harus dapat dirasakan manfaatnya bagi kemajuan masyarakat. Hal ini mengadnung makna bahwa keberadaan perguruan tinggi harus dirasakan oleh masyarakat disekitarnya dengan memberikan pemahaman kepada masyaraat sesuai dengan bidangnya.

Tantangan global

Pesatnya perkembangan teknologi informasi merupakan salah satu ciri utama perkembangan global di abad 21. Siap atau tidak siap hal itu merupakan satu realitas yang harus dihadapi dengan kualitas sumber daya manusia dengan daya saing unggul. Menghadapi berbagai perubahan di era globalisasi diperlukan sumber daya manusia yang memiliki kualitas keberdayaan yang lebih efektif agar mampu mengatasi berbagai tantangan yang timbul.

Dalam era globalisasi setiap orang dituntut untuk mampu mengatasi berbagai masalah yang kompleks sebagai akibat pengaruh perubahan global. Menurut Marquardt (1996) memasuki Abad ke-21 ada empat kecenderungan perubahan yang akan mempengaruhi pola-pola kehidupan yaitu; 1.) perubahan lingkungan ekonomi, sosial dan pengetahuan dan teknologi 2.) perubahan dalam lingkungan kerja, 3.) perubahan dalam harapan pelanggan 4.) perubahan harapan para pekerja.

Pada tatanan global seluruh umat manusia di dunia dihadapkan pada tantangan yang bersumber dari perkembangan global sebagai akibat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Robert B Tucker (2001) mengidentifikasi adanya sepuluh tantangan di abad 21 yaitu 1.) kecepatan (speed), 2.) kenyamanan (convinience), 3.) gelombang generasi (age wave), 4.) pilihan (choice), 5.) ragam gaya hidup (life style) 6.) kompetisi harga (discounting), 7.) pertambahan nilai (value added) 8.) pelayanan pelanggan (customer service), 9.) teknologi sebagai andalan (techno age), 10.) jaminan mutu (quality control).

Memasuki era baru di abad 21 sistem pendidikan tinggi di Indoensia harus terwujud sedemikian rupa dengan karakteristik antara lain; 1) terkait dengan kebutuhan mahasiswa, prioritas nasional dan pembangunan ekonomi, 2) terstruktur secara efektif sehingga memberi peluang kepada seluruh warga negara untuk mengembangkan potensi pribadi sepanjang hayat dan berkontribusi kepada masyarakat, bangsa dan negara, 3) didukung dengan pendanaan yang memadai sehingga memungkinkan untuk berinovasi dan mencapai keunggulan, 4) melakukan penelitian yang dapat menunjang pembangunan nasional, 5) memiliki akses dalam pengembangan dan penerapan teknologi, 6) berperan sebagai kekuatan moral dalam mewujudkan masyarakat demokratis yang madani. Dengan demikian, perguruan tinggi harus memiliki kredibilitas institusional secara utuh dan menyeluruh. Sistem ini harus memiliki akuntabilitas yang tinggi terhadap masyarakat, menunjukkan efisiensi dalam operasionalnya, menghasilkan lulusan yang berkualitas, memiliki manajemen internal yang transparan dan memenuhi standar.

Pendidikan Guru dan tenaga Kependidikan

Berbicara menegnai pendidikan, tidak dapat dilepaskan dengan aspek guru sebagai unsur inti pendidikan. Kualitas sumber daya manusia yang diharapkan mampu bersaing di era global sangat ditentukan oleh kualitas guru yang berada di garda terdepan pendidikan. Pada tatanan global dan nasional, dunia pendidikan ditantang dengan berbagai upaya pembaharuan dan pembangunan yang lebih berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia.

Lahirnya Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan berbagai produk ketentuan hukum lainnya merupakan satu tantangan yang harus dihadapi oleh Perguruan Tinggi khsusnya LPTK yang mempunyai tanggung jawab dalam menghasilkan guru yang berkualitas. Pada tatanan lokal dengan penerapan otonomi daerah, setiap daerah mempunyai peluang untuk menata pengembangan tenaga guru yang lebih berkualitas dan sesuai dengan tuntutan kebutuhan daerah.

Berkaitan dengan masalah dan kendala di dunia guru, cukup banyak kritikan tajam yang ditujukan kepada LPTK khsusnya yang berkenaan dengan ketidak mampuan LPTK menghasilkan guru yang berkualitas. Menurut Linda Daeling Hammond dan Joan Baratz Snouwden (2007) dalam tulisannya yang berjudul : Good Teacher in Every Classroom Preparing the High Qualified Teachers Our Children Deserve” ada beberapa alasan mengapa hal itu terjadi. Yaitu 1) pemerintah dan masyarakat belum menunjukkan keseriusannya dalam menangani hak-hak anak terutama dari kelompok miskin, 2) penyempitan makna konvensional yang menyatakan bahwa pengajaran semata-mata sebagai proses penyampaian materi sebagaimana digariskan dalam kurikulum, 3) banyak pihak yang tidak memahami hakekat mengajar yang sebanarnya 4) hampir semua meyakini bahwa yang penting adalah pengajaran dan bukan pembelajaran dari peserta didik 5) masih longgarnya tuntutan persyaratan untuk menjadi guru yang berkualitas 6) para penelitia dan pendidik guru baru sampai pada kesepakatan mengenai pengetauhan dasar yang diperlukan oleh guru untuk memasuki kelas. Pendidikan guru di masa lalu dan hingga sekarang sering dikritik terlalu sempit yang dibatasi dengan mempersiapkan pengetahuan yang akan diajarkan dikelas. Sementara kurang memperhatikan hal-hal yang terkait dengan pemahaman mengenai peserta didik, pengembangan profesi, pembentukan kepribadian, dan landasan pedagogis. Sebagai akibatnya ialah guru hanya mampu tampil sebagai penyampai pengetahuan dan tidak tampil sebagai guru profesional sebagaimana dituntut oleh Undang-undang Guru dan Dosen.

Pengembangan LPTK

Dengan memperhatikan uraian diatas, dapat dikatakan bahwa LPTK menghadapi masalah dan tantangan eksternal yang berkaitan erat dengan globalisasi, pembangunan ekonomi, desentralisasi, situasi politik, perkembangan sosial budaya dan teknologi. Sementara itu kenyataan obyektif secara internal LPTK di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dan masalah yang bersumber dari pola-pola menajemen yang sntralistik, mekanisme pendanaan yang sentralistik dan kaku, organisasi dan manajemen yang kuang efisien, kualitas sumber daya manusia yang kurang memadai dan belum optimalnya partisipasi masyarakat dalam pendanaan pendidikan. Semua masalah itu memerlukan penanganan secara nsional, sistematik dan terpadu

Sehubungan dengan itu antisipasi pengembangan dan kinerja LPTK khususnya LPTK swasta, merupakan satu hal yang harus diwujudkan demi kelestarian dalam menghadapi gelombang tantangan dalam tatanan global, nasional, regional, lokal dan organisasional. Hal ini mengandung makna bahwa pengembangan LPTK (terutama swasta termasuk LPTK PGRI) merupakan satu keharusan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi agar menjadi lembaga pendidikan yang lestari dan bermutu.

Pengembangan LPTK PGRI sekurang-kurangnya mencakup aspek sturktur, kultur, substansi, dan SDM. Dalam aspek struktur perlu dikaji struktur kelembagaan LPTK PGRI termasuk hubungan struktural dan fungsional antar lembaga pendidikan, dengan pemerintah pusat (pusat dan daerah), khususnya Departemen Pendidikan Nasional/ Dinas Pendidikanm dengan Yayasan dan pihak-pihak terkait lainnya sehingga diperoleh satu struktur yang menunjang eksistensinya.

Dalam aspek kultur, perlu dilakukan pola-pola budaya yang sedemikian rupa dapat menunjang berkembangnya Lembaga Pendidikan Tinggi yang bercorak khas sebagai cerminan jatidiri, visi, misi dan strategi PGRI. Budaya birokratis dan feodal harus bergeser ke budaya “pedagogis” yang demokratis dalam suasana nilai-nilai kejuangan guru. Budaya komunikasi satu arah yang “top down” harus digeser menjadi budaya komunikasi dua arah dan “bottom up”, Budaya pengaturan yang sentrarilstik ke budaya pemberdayaan dan desentralistik yang otonom. Bagaimanapun perguruan tinggi PGRI itu merupakan aktualisasi kultur pendidikan, sehingga paradigma pendidikan harus menjadi landasan utama dalam perwujudan kinerjanya melalui aktualisasi tridharma perguruan tinggi.

Sumber: Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis ke 45 dan Wisuda Sarjana Universitas PGRI Yogyakarta

Popularity: 8% [?]

5 tanggapan

  1. Yanti K. — 3 February 2008 pukul 13:33 WIB

    Dikatakan di atas, pada tatanan lokal dengan penerapan otonomi daerah, tiap daerah mempunyai kesempatan mengembangkan tenaga guru yang berkualitas sesuai dengan tuntutan daerah.
    Yang ingin saya tanyakan,
    dalam era globalisasi ini, masih ada masyarakat yang terbelakang terutama di daerah pelosok tanah air dengan segala kebudayaannya yang masih belum terjangkau ilmu dan tehnologi modern.
    Bagaimana masyarakat itu akan mempunyai SDM terutama guru yang berkualitas, jika diterapkannya otonomi daerah, mungkin menyebabkan keterbatasan gerak terutama masalah jangkauan wilayah kerja guru.
    bagaimana upaya pemerintah untuk memeratakan ilmu & tehnologi di wilayah-wilayah tersebut secara nyata, sehingga tidak terjadi ketimpangan ilmu & tehnologi di negara kita yang terdiri dari pulau-pulau ini ?
    Terima kasih atas kesempatan dan jawabannya.

  2. sriwijayati — 1 May 2008 pukul 11:40 WIB

    Ya benar semua yang telah Bapak sampaikan di atas. Tapi untuk mencapainya mungkin masih banyak kendala di antaranya belum semua guru bisa mengikuti perkembangan ilmu yang sudah begitumaju. Misalnya saja saya pak , dan masih banyak teman teman saya yang belum bisa buka email, kirim lewat internet, cari informasi lewat internet. Apalagi guru di lain daerah yang masih jauh dari jangkauan internet, tapi saya sekarang bersyukur bisa belajar atas bantuan Bapak Dosen meskipun bingung tapi saya senang. Terimakasih ya, Pak,atas bimbingan yang diberikan semoga Bapak mendapat pahala dari Alloh SWT.

  3. suyatini — 17 May 2008 pukul 5:59 WIB

    semua yang disampaikan bapak, atau ide-ide gagasan bagus sekali dan saya sangat setuju. tapi karena kemampuan dan usiaku terbatas sehingga aku belum mampu mengoperasikan komputer dengan lancar. tapi aku bermodal senang untuk menyentuhnya sehingga msh bnyk kkurangan dlm pnlsn n mngrtkn mksd pd kmptr. psn saya pd bpk, tlng bsk soalnya mdh sj klo prlu dkrjkn scra tatap muka. biar aku dapat nilai A. kan puas to?????????mkci y pak ats pngrtiannya….
    saya bangga dngn kluarga bpk yg sngt harmonis, semoga bhgia sllu dan mjd cnth bg kita smua.pak aku gemes sama yang paling kcil itu,lucu sekali kyk bpknya. cukup sekian dan maaf bila ada kekurangan.

  4. Sekar Sosronegoro — 1 October 2010 pukul 16:14 WIB

    Saya Sekar dari perusahaan start up Indonesia bernama SITTI. Kami akan membagikan 5 iPad untuk blogger/pemilik situs yang mendaftarkan situsnya ke http://www.sittibelajar.com/ref_from.php?ref=email_blast dan memasang script SITTI sebelum Jumat, 1 Oktober 2010 jam 12.00 malam.

  5. HENDRA SUGIANTORO-UPY — 23 October 2011 pukul 16:34 WIB

    Ada catatan menarik terkait tantangan perguruan tinggi di era globalisasi. Berikut link berita di Suara Merdeka: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/10/17/163024/Hanya-15-Pengajar-Layak-Disebut-Dosen

    Terkait peningkatan kualitas guru, motivasi harus terus ditumbuhkan. Motivasi ini bisa dari internal guru maupun dari eksternal. Guru harus memiliki motivasi, komitmen, dan tekad kuat untuk terus meningkatkan kualitas dirinya. Kesadaran belajar merupakan keniscayaan, sehingga guru bisa menjadi sosok yang berkualitas.
    Menanggapi Ibu Yanti di atas, kini ada program yang tengah dilakukan pemerintah cq Kementerian Pendidikan Nasional (setelah reshuflle Oktober 2011 menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), yakni MAJU BERSAMA MENCERDASKAN INDONESIA MELALUI SARJANA MENDIDIK DI DAERAH 3T. Daerah 3T adalah daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. Salah satu tujuan dari program tersebut adalah membantu daerah 3T dalam mengatasi permasalahan pendidikan terutama kekurangan tenaga pendidik. Informasi tersebut saya peroleh dari Prof. Dr. Buchory MS, M.Pd saat berbicara dalam seminar bertema Partisipasi Generasi Muda Indonesia dalam Bela Negara melalui Pendidikan Nasional di Universitas PGRI Yogyakarta, Senin, 17 Oktober 2011, lalu. Wallahu a’lam.

Silakan berkomentar melalui formulir berikut: