Drs. Bandono, MM

Guru Pembimbing dan Koordinator TIK SMA Negeri 7 Yogyakarta

Filosofi Belajar Tuntas (Mastery Learning)

Thursday Pon, 24 July 2008 — Lain-lain

Belajar tuntas (Mastery Learning) adalah pendekatan pembelajaran berdasar pandangan filosofis bahwa seluruh peserta didik dapat belajar jika mereka mendapat dukungan kondisi yang tepat. Dalam pelaksanaannya peserta didik memulai belajar dari topik yang sama dan pada waktu yang sama pula. Perlakuan awal belajar terhadap siswa juga sama. Siswa yang tidak dapat menguasai seluruh materi pada topik yang dipelajarinya mendapat pelajaran tambahan sehingga mencapai hasil yang sama dengan kelompoknya. Siswa yang telah tuntas mendapat pengayaan sehingga mereka pun memulai mempelajari topik baru bersama-sama dengan kelompoknya dalam kelas. (http://en.wikipedia. org/wiki/ Mastery_ learning: 2008)

Konsep dasar yang perlu mendapat perhatian pendidik ialah peta sebaran potensi sebelum siswa mendapat perlakuan belajar. Secara empirik data potensi tersebar normal (John B.Carol, . Hal itu mengandung arti bahwa hampir seluruh data berada dalam kurva. Berdasarkan konsep ini maka siswa dikelompokan dalam 3 kelompok yaitu atas, tengah dan bawah. Kelompok atas berarti siswa yang dapat belajar dengan cepat, kelompok tengah siswa rata-rata, dan kelompok bawah adalah siswa yang berkarakter belajar lambat. Seperti dalam distribusi sebaran IQ pengelompokan berdasarkan proporsi antara 26% kelompok atas dan 26% kelompok bawah, dan 68% kelompok tengah pada antara 85 -115. Satu persen dari kelompok atas tergolong siswa yang amat cerdas, dan dua persen dari kelompok bawah siswa yang daya belajarnya sangat lambat (Disso95. http://www.youtube.com).

Secara empirik, jika siwa berada pada kondisi yang tepat, mendapat perlakuan belajar yang sesuai dan mendapat waktu yang cukup untuk menyelesaikan tugas belajar maka hasil studi di beberapa negara termasuk di Amerika, 90% siswa dapat mencapai target belajar secara normal.Huitt, W. http://chiron.valdosta.edu/whuitt/col/instruct/ mastery.html, 1996). Teori ini menegaskan betapa pentingnya sekolah dikondisikan agar dapat memberi perlakuan belajar dan menyediakan waktu belajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Berdasarkan analisis teori di atas ditegaskan pula bahwa tingkat kebutuhan perlakuan dan waktu belajar sengat bergantung pada potensi siswa sehingga sekolah yang efektif memberi perlakuan belajar tidak sama untuk seluruh siswa karena harus disesuaikan dengan tingkat kebutuhan pelayanan.

Terdapat dua faktor utama yang menentukan kecepatan siswa mencapai ketuntasan belajar, pertama adalah kecerdasannya dan kedua motivasinya. Istilah kecerdasan memayungi gambaran makna yang terkandung dalam pikiran yang berhubungan membentuk berbagai kemampuan, kemampuan berargumentasi, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, mengembangkan ide secara utuh dan menyeluruh, serta kemampuan belajar. Kecerdasan juga meliputi kreativitas, kepribadian, karakter, ilmu pengetahuan atau kebijakan (http://en.wikipedia.org/ wiki/Intelligence_(trait). Motivasi itu dapat diumpamakan sebagai mesin penggerak. Kalau pada sepeda motor besarnya motivasi itu bergantung pada besar CC pada mesin. Kembali pada potensi siswa, maka semakin besar motivasi dan semakin tinggi kecerdasannya maka semakin besar kemungkinannya siswa itu masuk dalam kelompok atas.

Secara empirik sebaran kecerdasan siswa dalam kelas berada pada kelompok rata-rata. Hal yang fenomenal dalam proses pembelajaran, pendidik memperlakukan siswa dengan perlakuan rata-rata. Konsekuensi dari penyikapan ini sesungguhnya yang pelayanan yang guru lakukan lebih banyak memenuhi kebutuhan siswa rata-rata pula. Oleh karena itu siswa yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi selalu lebih cepat menguasai pengetahuan maupun dalam memecahkan masalah. Akibatnya, siswa kelompok atas selalu harus menunggu teman sekelompoknya selesai menyelesaikan pelajarannya. Jika tidak memperoleh perlakuan dalam masa menunggu itu siswa pandai selalu mencari kesibukan lain. Ada kalanya mereka menjadi pengganggu temannya sehingga bisa jadi karena itu dicap sebagai siswa nakal. Sebaliknya siswa yang paling bawah akan selalu menghadapi kendala ketertinggalan.

Dengan memperhatikan kondisi ini maka dalam pelayanan pendidikan memerlukan memerlukan pelayanan standar untuk siswa rata-rata, pelayanan pengayaan untuk siswa kelompok atas dan pelayanan perbaikan untuk siswa kelompok bawah. Atas dasar argumentasi inilah maka sistem kredit semester itu diperlukan sebagai solusi agar kecepatan belajar siswa dapat berkembang menurut potensi dirinya. Dengan pelayanan sistem kredit semester (1) seluruh individu dapat belajar sesuai dengan potensinya (2) seluruh individu belajar dengan caranya masing-masing pada tingkat kecepatan yang berbeda (3) dengan pelayanan belajar yang kondusif maka potensi perbedaan karakter tiap individu akan lebih jelas terlihat (4) bias yang tidak terkoreksi akan lebih mudah dipertanggung-jawabkan pada hampir seluruh bentuk kesulitan belajar. (http://www.perry-lake.k12.oh.us/402_LearnFacil/Index_links/what_is_ mastery_learning.htm)

6 tanggapan

  1. widayanti — 28 January 2009 pukul 16:03 WIB

    Guru tidak hanya bertugas untuk menyampaikan materi sesuai dengan kurikulum. akan tetapi harus juga memperhatikan apakah siswa telah benar-benar menguasai apa yang kita ajarkan. untuk itulah saya sangat sepakat dengan adanya konsep mastery learning ini yang mana semua siswa diharapkan mampu untuk mencapai ketuntasan dalam belajar.

  2. Hanna — 1 March 2011 pukul 0:30 WIB

    Like this..

  3. toto — 8 October 2011 pukul 10:30 WIB

    perlu pula dipikirkan tentang sistem kredit dalam mencapai ketuntasan belajar di sekolah lanjutan karena sistem remidial saya rasa terkesan dipaksakan

  4. ahmad — 28 February 2012 pukul 23:07 WIB

    tak selalu dikelompokkan, malah kalau bergabung saling melengkapi.
    trus kalau siswa di atas ditinggalkan saja supaya blajar sendiri?
    sedangkan siswa di bawah dimanja supaya lebih lama

  5. Pelatihan Hipnotis — 16 April 2012 pukul 10:59 WIB

    Ya…idenya bagus..seandainya guru dapat menyampaikan materi pelajaran dengan metode yang efektif dan menyenangkan tentu mastery learning lebih mudah dicapai.http://hipnofrans.com/?p=44

  6. elsina sihombing — 25 May 2012 pukul 15:58 WIB

    pk, kl pemakaian istilah tuntas bagi anak yg tuntas bearty, masterful, nah kl bg yg tidak tuntas apa istilahnya pk? utk ditulis diraport

Silakan berkomentar melalui formulir berikut: