Drs. Bandono, MM

Guru Pembimbing dan Koordinator TIK SMA Negeri 7 Yogyakarta

Menumbuhkan Kemandirian Dan Kreativitas Pola Pikir Anak Usia Pra Sekolah

Friday Pahing, 3 July 2009 — Makalah

Oleh: Dra. Baniyah (Guru Pembimbing SMAN 7 Yogyakarta)
A. Latar belakang
Sesuai dengan perkembangan jaman yang menuju kearah era globalisasi dalam segala bidang tentunya juga berpengaruh terhadap pola pikir anak usia pra sekolah agar mampu mengantisipasi perubahan jaman yang begitu cepat.
Untuk menumbuhkan kemandirian dan kreativitas pola pikir anak pra sekolah diperlukan berbagai tahapan dan metode agar anak tidak merasa terbebani dan tertekan dalam menumbuhkan kreativitasnya.

Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana cara menyiapkan anak usia pra sekolah mempunyai wawasan dan pola pikir positif dan bagaimana pula peran orang tua, masyarakat dan lembaga-lembaga pendidiakan dalam memumbuhkan pola pikir anak usia pra sekolah yang mandiri dan kreatif serta tahapan-tahapan apa saja yang diperlukan agar tujuan yang telah ditentukan dapat tercapai.

B. Pembahasan
Dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan lembaga pendidikan terutama lembaga pendidikan dasar menunjukkan peningkatan yang cukup pesat, terutama lembaga-lembaga pendidikan dasar (kelompok bermain, Taman Kanak-kanak, TK terpadu Sekolah Dasar Terpadu) yang dikelola oleh berbagai yayasan dengan menawarkan berbagai keunggulan tentunya perlu disambut secara positif. Menjamurnya lembaga-lembaga pendidikan ini memperlihatkan adanya antusiasme dari masyarakat untuk berperan serta dalam membentuk pribadi yang kuat guna menghadapi perkembangan jaman yang begitu cepat. Hanya saja yang perlu dicermati khususnya orang tua adalah jangan sampai pola pendidikan yang diberikan akan menjadi beban bagi si anak. Untuk itu diperlukan kecermatan dan tahapan-tahapan dalam menumbuhkan anak yang berpola pikir positif, kreatif dan mandiri.

1. Menyiapkan Perkembangan Anak Usia Dini
Telah menjadi anggapan umum bahwa kompleknya permasalahan yang dihadapi masyarakat saat ini akan dapat dipecahkan secara bijak oleh seseorang yang mempunyai kemampuan tinggi. Seorang bijak yang mempunyai kemampuan tinggi tersebut sangat diperlukan guna menghadapi perubahan jaman yang sedemikian pesat sehingga dapat mempersiapkan perkembangan pola pikir anak pra sekolah menjadi lebih baik dan berkualitas.
Sementara itu bagi orang tua pola pikir anak di usia pra sekolah perlu dipersiapkan dengan baik dan matang untuk menyiapkan anak yang tangguh dalam menghadapi perubahan dan tantangan jaman. Sikap ketangguhan ini dapat diperoleh dari mereka yang mempunyai pribadi kuat dan terwujud dalam kemandiriannya, kreativitasnya maupun konsep pola pikir dirinya yang positif.

2. Pembentukan Kemandirian Anak
Kemandirian dapat diartikan sebagai suatu bentuk kepribadian yang terbebas dari sikap ketergantungan. Akan tetapi bukan sebagai person yang tanpa sosialisasi melainkan sebagai suatu kemandirian yang terarah melalui pengaruh lingkungan (orang tua/pendidik) yang postif.

Kemandirian seorang anak menurut Anas Suwarsiyah (1999) akan terwujud dengan kehadiran orang tua terutama seorang ibu terhadap anaknya, terlebih sebelum anak mencapai usia dua tahun. Pada saat ini maternal child bonding (keeratan) dapat terbentuk sehingga dapat menumbuhkan attachment (kelekatan) antara anak dan ibu. Jika bonding sudah terbentuk, secara psikologis akan merasa aman. Dengan adanya rasa aman yang diperoleh melalui bonding dan attachement ibu sebagai figur maka dapat terbentuk kemandirian anak tanpa rasa takut. Mandiri tanpa seorang figur akan menyebabkan beban psikologi, dan anak bisa lari ke figur lain yang mungkin negatif. Contoh, lepas dari orang tua dan lari ke pergaulan dengan teman-teman sebaya yang negatif.

Karenanya dengan adanya rasa aman anak tahu dan yakin bahwa masih ada orang yang dekat dengan dirinya. Sehingga terbentuklah pribadi yang mandiri yang peduli pada orang lain.

3. Pembentukan Kreativitas
Kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta sesuatu yang baru. Setiap orang pada dasarnya mempunyai potensi kreatif, meskipun berbeda-beda.
Dekemukakan oleh Dedy Supriadi (1994) bahwa potensi/daya kreatif perlu dikenalkan dan dikembangkan sedini mungkin dan agar daya kreativitas dapat berkembang, maka diperlukan lingkungan yang mendukung. Rumah, sekolah dan masyarakat perlu memberikan kesempatan pada anak untuk bersibuk diri secara kreatif. Kesempatan ini dapat terwujud bila terdapat stimulasi yang bersifat lentur, misalnya mainan-mainan setengah jadi, mainan konstruktif yang dapat dibentuk anak sesuai dengan kemampuan dan daya kreativitasnya.

Kreativitas juga dapat dilihat sebagai suatu bentuk pemikiran atau ide-ide. Berpikir kreatif dapat dilatihkan dengan tidak hanya mengajarkan untuk mencari satu jawaban terhadap suatu persoalan. Biasakan anak berfikir ke macam-macam arah serta mempertimbangkan berbagai kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah (Solehuddin, 1997).
Disamping melatih berfikir kreatif, perlu dipupuk sikap kreatif, seperti melihat permasalahan sebagai tantangan untuk dipecahkan, bersifat ingin tahu, tidak takut membuat kesalahan, berani mengambil resiko, dan hal-hal lain yang sekiranya perlu pemikiran lebih kreatif.

Hal tersebut di atas bisa dimulai dari lingkungan keluarga, masyarakat dan tempat-tempat pendidikan dasar seperti kelompok bermain, Taman kanak-kanak dan tempat-tempat penitipan anak.
Orang tua juga sangat berperan dalam menumbuhkan daya kreativitas anak dan diharapkan mampu memberikan contoh-contoh atau sebagai modelling bagi anak, juga memberikan kesempatan dan kebebasan anak dalam bertindak sehingga anak terbebas dari rasa takut untuk mencoba ataupun bertanya.

4. Pembentukan Konsep Diri
Konsep diri dapat diartikan sebagai gambaran ataupun penilaian terhadap dirinya sendiri. Konsep diri bukan merupakan bawaan akan tetapi terbentuk pada diri individu melalui pengalaman-pengalaman positif misalkan keberhasilan-keberhasilan yang pernah dicapainya ataupun melalui penilaian lingkungan terhadap dirinya.
Mengingat konsep diri sebagai kondisi psikis yang dapat dipelajari maka konsep diri dapat dibentuk sedini mungkin dan tentu saja akan berkembang sesuai dengan pertambahan umurnya.

Konsep diri selain ditentukan oleh penilaian lingkungan terhadap dirinya juga ditentukan oleh keberhasilan yang pernah dicapai individu. Orang yang mempunyai konsep diri positif biasanya akan lebih yakin akan kemampuannya dan dapat mendukung keberhasilan terhadap target yang telah ditentukan. Sebaliknya anak yang mempunyai konsep diri negatif biasanya akan selalu ragu terhadap kemampuannya sehingga akan berpengaruh negatif pula dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang ada.

Pembentukan konsep diri tidak terlepas dari peran keluarga (orang tua ataupun peran pendidikan). Oleh karena konsep diri terbentuk melalui penilaian lingkungan terhadap individu dan juga terbentuk melalui pengalaman-pengalaman, kegagalan-kegagalan ataupun keberhasilan-keberhasilannya, maka orang tua maupun pendidik sebaiknya mampu mengantisipasi kemampuan anak didiknya. Untuk itu pendidik maupun orang tua harus dapat memberikan stimulasi yang sesuai dengan tingkat kemampuannya, sehingga dapat mengurangi kegagalan yang akan terjadi dan dapat mengakibatkan anak menjadi rendah diri sehingga terbentuk konsep diri yang negatif.

C. Kesimpulan
Menumbuhkan kemandirian anak, kreativitas dan Pola pikir anak pra sekolah sebagai pondasi utama dalam mendidik anak sangat diperlukan agar anak mempunyai kualitas yang lebih pada masa mendatang.
Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Untuk menyiapkan perkembangan anak pra sekolah diperlukan orang yang mempunyai kemampuan tinggi dan orang tua untuk membentuk anak menjadi pribadi yang kuat, mandiri dan mempunyai konsep daya krativitas yang positip.

2. Dalam membentuk kemandirian anak diperlukan pribadi yang terbebas dari rasa ketergantungan dalam arti anak mempunyai rasa aman dan yakin bahwa masih ada orang yang dekat dengan dirinya sehingga terbentuklah pribadi yang mandiri dan peduli pada orang lain.

3. Anak perlu dilatih untuk berfikir lebih kreatif seperti melihat permasalahan sebagai tantangan unntuk dipecahkan, bersifat ingin tahu dan tidak takut membuat kesalahan serta berani mengambil resiko.

4. Dalam membentuk pola pikir anak usia pra sekolah diperlukan stimulus-stiimulus yang bersifat positif melalui berbagai pengalaman-pengalaman positif agar konsep diri dapat terbentuk kepada masing-masing individu.

D. Penutup
Berangkat dari pemikiran di atas maka dalam menghadapi era globalisasi dan perubahan jaman yang pesat ini, diperlukan mempersiapkan anak menjadi anak yang kreatif, mandiri serta mempunyai konsep diri yang positif pada usia pra sekolah agar dapat menjadi pondasi yang kuat dalam pengembangan pribadi pada tahap berikutnya. Utuk mendapatkan itu semua peran keluarga terutama orang tua (ibu) serta pendidik sangatlah penting. Dengan demikian perlu kiranya orang tua maupun pendidik secara bijak mensikapi dan mempersiapkan diri baik segi ilmu pengetahuan, ketrampilan serta adanya kedekatan orang tua dengan anak sehingga mampu menjadi suri tauladan bagi perilaku anak serta menimbulkan rasa aman bagi anak.

Rasa aman akan menyebabkan anak berani bertindak, bereksplorasi, timbul rasa ingin tahu dan yakin akan kemampuannya.
Berdasarkan uraian di atas maka untuk membekali anak dalam menyongsong hari depannya tidak perlu anak dijejali dengan hal-hal yang akan membebani anak, akan tetapi cukup dari memberikan pengertian-pengertian tentang lingkungannya terutama masyarakat, orang tua dan lingkungan pendidikannya.

Untuk anak usia pra sekolah dapat pula dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan sesuai dengan tingkat perkembangan umurnya dan orang tua tentunya harus mampu mendampingi anak dengan baik agar anak dapat berkembang secara optimal.

DAFTAR PUSTAKA
Anas Suwarsiyah, 1999. Menumbuhkan kemandirian anak, kreativitas dan konsep diri yang sehat anak usia dini; Sebuah Tinjauan, UII Yogyakarta.

Aswarni Sudjud, 1996. Konsep Pendidikan Prasekolah, Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.

Dedi Supriadi, 1994. Kreativitas, Kebudayaan dan perkembangan IPTEK, Bandung , Alfabeta.

M. Solehuddin, 1997. Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah, Bandung: FIP IKIP Bandung.

Popularity: 5% [?]

9 tanggapan

  1. endah — 21 May 2010 pukul 19:03 WIB

    artikel yang sangat bermutu, q jd gampang cari bahan tentang kemandirian. Thx

  2. ramlah — 26 January 2011 pukul 13:46 WIB

    uDah baGus baNget sih Pak….
    tp masih kurang
    tolong donk;’ tambahinjuga faktor – faktor yang berpengaru langsung dalam perkembangan kemandirian seorang anka.?????????

  3. wiwin winayah — 25 February 2011 pukul 12:49 WIB

    berarti orang tua harus bersikap lebih agresip lagi terhadap anak – anak nya tp bagai mana menghadapi anak yg tidak mau ngalah

  4. wiwin winayah — 25 February 2011 pukul 12:51 WIB

    mau lebih tau lagi supaya menumbuhkan motipasi untuk anak – anak

  5. yunis lisdawati — 30 April 2011 pukul 15:54 WIB

    subhanallah, bagus & menginspirasi sy utk menulis jg, apalagi klo dtmbah masalah2 kemandirian ank & pemecahannya, pasti makin asyik, smga di tulisan brikutnya y pk. bgm dg org tua yg pola pikirnya “krg maju” ? atau pndidik itu sndiri yg krg kompeten, kan msh byk tuh, tp te2p hrs optimis ya, sukses guru bk

  6. HENDRA SUGIANTORO-UPY — 23 October 2011 pukul 7:28 WIB

    Dari uraian di atas, ada yang menarik terkait soal kemandirian. Dari pemahaman saya terhadap uraian di atas, pembentukan kemandirian seorang anak membutuhkan figur. Bagi anak sebelum berusia 2 tahun, figur itu adalah orang tua, terutama ibu. Hubungan antara ibu dan anak diupayakan lekat dan dekat. Didapatkannya rasa aman karena keeratan dan kelekatan dengan ibunya, maka membuat anak mampu mencapai kemandirian.
    Perhatikan pernyataan ini: “Mandiri tanpa seorang figur akan menyebabkan beban psikologi, dan anak bisa lari ke figur lain yang mungkin negatif.” Mungkin anak remaja yang dianggap “menyalahi norma” ketika kecil tak ada hubungan erat dan lekat dengan ibunya. Wallahu a’lam.

  7. dicky syadic — 1 November 2011 pukul 12:02 WIB

    saya ingin tahu secara mendalam bagaimana pola pikit ibu terhadap prilaku anak,jadi,saya harapkan yang memberi penjelasan harus bener-benar apa yang tertera di kasus ini.
    atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih

  8. Puput Rizkiyah — 15 November 2011 pukul 17:01 WIB

    keluarga sangat berperan penting dalam perkembangan anak, baik itu perkembangan psikomotorik, kognitif, bahasa, ataupun kemandirian, karena keluarga adalah unit terkecil dalam kehidupan yang berpengaruh langsung dalam perkembangan seseorang.
    maka dari itu, hal pertama jika ada yang sistem yang harus diperbaiki untuk mengatasi keboborokan bangsa adalah ditingkat keluarga terlebih dahulu.. ^^

  9. tomas — 1 May 2012 pukul 20:24 WIB

    pak hebat. pak punya referensi tentang pengaruh teknolohi (internet) terhadap perilaku sex remaja

Silakan berkomentar melalui formulir berikut: