Keterampilan Bertanya dalam Proses Konseling
Saturday Pahing, 9 January 2010 — Konseling
Keterampilan bertanya merupakan salah satu bagian penting dari suatu dialog antara konselor dengan konseli. Pertanyaan yang baik sangat membantu konseli dalam memperoleh pemahaman tentang berbagai hal yang menjadi dan atau terkait dengan topik pembicaraan. Cara-cara mengajukan pertanyaan yang baik membutuhkan keterampilan.
Dalam komunikasi antara konselor dan konseli, konselor dapat membantu konseli untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup. Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang memungkinkan konseli memberikan jawaban secara terbuka dan luas. Pertanyaan terbuka dapat membantu konseli menggali dirinya guna memperoleh pemahaman diri yang lebih baik. Melalui penggunaan pertanyaan terbuka, konselor juga mengkomunikasikan minatnya untuk membantu konseli dalam mengeksplorasi diri. Pertanyaan terbuka dapat diungkapkan misalnya dengan ”Apa yang anda pikirkan ketika merenung sendirian?”. Bagaimana perasaan anda ketika dia meninggalkan anda? ”Apa rencana anda selanjutnya”
Pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang biasanya dapat dijawab dengan jawaban ya atau tidak, atau dijawab dengan satu atau dua kata. Beberapa contoh pertanyaan tertutup adalah ”Ketika ibumu meninggal kamu berusia berapa tahun? ”Apakah anda merasa kesal atas perlakuan yang anda terima?” ”Berapa jumlah saudara kadnungmu?”. Pertanyaan tertutup cenderung memutus pembicaraan. Pertanyaan tertutup lebih menekankan pada isi pembicaraan yang faktual dari pada memperhatikan perasaan. Jika konselor menginginkan konseli berbicara banyak tentang berbagai hal, penggunaan pertanyaan tertutup kurang tepat. Meskipun demikian, jika konselor menginginkan konseli memberikan suatu jawaban yang singkat dan jelas, pertanyaan tertutup tepat digunakan. Pertanyaan tertutup sering kali menimbulkan kesan pada konseli bahwa konselor kurang menaruh perhatian kepada konseli.
Sumber:Suwarjo (2009) Praktik Keterampilan Konseling (Bahan PLPG) Yogyakarta: Univeristas Negeri Yogyakarta (UNY)
Popularity: 2% [?]
8 tanggapan
Silakan berkomentar melalui formulir berikut:

betul sekali pertanyaan tetutup cenderung menutup dan memutus komunikasi, di tambah persepsi konseli bahwa guru BK masih selalu berkaitan dengan anak2 yang “bermasalah”. Jadi ketika mereka di ajukan beberapa pertanyaan mereka cenderung tertutup dan berusaha menghindar, namun sebenarnya konselor juga bisa menangkap bahasa tubuh yang tidak mungkin bisa de sembunyika oleh konseli. untuk menangkap pesan2 tersembunyi dari kondisi kejiwaan konseli…
YANG JADI PERMASALAHAN ADALAH KETRAMPILAN BAGAIMANA MEMBUAT SEBUAH PERTANNYAAN TERBUKA UNTUK MENGGALI INFORMASI TERHADAP KONSELI INILAH YANG KONSELOR PERLU KUASAI,PERLU KETRAMPILAN DAN LATIHAN ,MUNGKIN PERLU CONTOH DIALOG YANG PERNAH DILAKUKAN OLEH KONSELOR BERPENGALAMAN DALAM MENYELESAIKAN PERMASALAHAN KONSELI PAK .MOHON CONTOH TERSEBUT DIMUAT DISINI.TRIMS
pak saya ini bukan lulusan BK namun saya diberi kepercayaan untuk menjadi konselor . jadi saya mohon bapak memberikan contoh contoh konselor yang baik biar saya mencoba menyimpulkan. syukron
trimakasih karena baru tahu blog ini
asskm…
terimakasih atas tulisannya, mohon kiranya dapat menampilkan /mengirimkan contoh silabus atau RPP .
terima kasih
Menarik. Memberikan pertanyaan terbuka atau pertanyaan tertutup tampaknya lebih tergantung konteks. Pertanyaan tertutup meskipun cenderung menutup pembicaraan tetap dibutuhkan konselor untuk mendapatkan informasi-informasi yang diperlukan. Dalam proses konseling, pertanyaan terbuka atau pertanyaan tertutup akan selalu ada. Untuk menggali pikiran dan perasaan klien, pertanyaan terbuka yang niscaya dilakukan. Wallahu a’lam.
like it,mohon materi nya lagi pak
SALAM KENAL