Drs. Bandono, MM

Guru Pembimbing dan Koordinator TIK SMA Negeri 7 Yogyakarta

Karakter Pembelajaran Kontektual

Thursday Kliwon, 14 October 2010 — Lain-lain

Pembelajaran kontekstual itu memiliki karakteristik, sebagai masukan dari teman dan suadara kami dari MARTINUS SUTRISNO asal NTT/MANGGARAI FLORES mahasiswa UNESA (Universitas Negeri Surabaya)
berikut:

Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections).

Siswa dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan minatnya secara individual, orang yang dapat bekerja secara sendiri atau bekerja dalam kelompok dan orang yang belajar sambil berbuat (learning by doing).

Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan (doing significant work)

Siswa membuat hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis dan sebagai anggota masyarakat.

Belajar yang diatur sendiri (self-regulated learning)

Siswa melakukan pekerjaan yang signifikan: ada tujuannya, ada urusannya dengan orang lain, ada hubungannya dengan penentuan pilihan, dan ada produknya/hasilnya yang sifatnya nyata.

Bekerja sama (collaborating)

Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi.

Berpikir kritis dan kreatif (critical and creatif thinking)

Siswa dapat menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif: dapat menganalisis, membuat sintesis, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan menggunakan logika dan bukti-bukti.

Mengasuh dan memelihara pribadi siswa (nurturing the individual)

Siswa memelihara pribadinya: mengetahui, memberi perhatian, memiliki harapan-harapan yang tinggi, memotivasi dan memperkuat diri sendiri. Siswa tidak dapat berhasil tanpa dukungan orang dewasa. Siswa menghormati temannya dan juga orang dewasa.

Mencapai standar yang tinggi (riching hight standards)

Siswa mengenal dan mencapai standar yang tinggi: mengidentifikasi tujuan dan memotivasi siswa untuk mencapainya. Guru memperlihatkan kepada siswa cara mencapai apa yang disebut “excellence”.

Menggunakan penilaian autentik (using authentic assessment).

Siswa mengggunakan pengetahuan akademis dalam konteks dunia nyata untuk suatu tujuan yang bermakna. Misalnya siswa boleh menggambarkan informasi akademis yang telah mereka pelajari dalam pelajaran sains, kesehatan, pendidikan, matematika, dan pelajaran bahasa Inggris dengan mendesain sebuah mobil, merencanakan menu sekolah, atau membuat penyajian perihal emosi manusia.

Secara operasional, terdapat tujuh komponen utama penerapan CTL di kelas. Ketujuh komponen utama itu adalah konstruktivisme (contructivisme), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment) (Nurhadi, dkk, 2003: 31). Oleh kerena itu, sebuah kelas dapat dikatakan menggunakan pendekatan CTL jika telah menerapkan tujuh komponen tersebut dalam kegiatan pembelajarannya.Terima kasih

1 tanggapan

  1. Imam Sarjono — 18 July 2011 pukul 22:18 WIB

    sangat baik pembelajaran karakter sehingga anak lebih mengenal diri dan lingkungannya demi masa depan bangsa yang majemuk

Silakan berkomentar melalui formulir berikut: