Drs. Bandono, MM

Guru Pembimbing dan Koordinator TIK SMA Negeri 7 Yogyakarta

Validasi Sekolah Model di SMA N 7 Yogyakarta

Thursday Pon, 1 December 2011 — Kegiatan

SMA Negeri 7 Yogyakarta di validasi oleh Tim Sekolah Model dari Kementerian Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atastanggal 14 Nopember sampai dengan tanggal 19 Nopember 2011 oleh 3 orang yaitu Drs. Suparno, MM. Drs. H. Otong Ahmad Fathoni, M.Ag, Ardiansyah Paramita, S.Hut.

SMA Negeri 7 Yogyakarta sevagai SMA Pelaksana SKM-PBKL-PSB merupakan model pembinaan pemenuhan Standar Nasional Pendidikan (SNP) di SMA. Model pembinaan tersebut dilaksanakan secara terbatas pada 132 SMA yang tersebar di 33 provinsi dan 116 kabupaten/kota. Program pembinaan ini merupakan implementasi dari Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang mengamanatkan bahwa seluruh satuan pendidikan termasuk SMA dapat mencapai kondisi memenuhi atau hampir memenuhi SNP. Disebutkan dalam Peraturan Pemerintah tersebut bahwa sejalan dengan pemberlakuan SNP tersebut sebagai bagian dari pembinaan pemenuhan SNP, maka pemerintah memetakan sekolah berdasarkan tingkat pemenuhan SNP kedalam dua kategori yaitu kategori standar dan kategori mandiri. Sekolah kategori standar adalah sekolah yang belum memenuni SNP. Sedangkan sekolah kategori mandiri adalah sekolah yang telah atau hampir memenuhi SNP. Dalam rangka memenuhi SNP berbagai upaya ditempuh agar alokasi sumberdaya pemerintah dan pemerintah daerah diprioritaskan untuk membantu sekolah/madrasah yang masih dalam kategori standar untuk bisa meningkatkan diri menuju kategori mandiri.

Sekolah Kategori Mandiri (SKM) merupakan kategori sekolah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi SNP dan menerapkan sistem kredit semester (SKS). Bagi sekolah yang telah mencapai kategori mandiri dapat menerapkan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (PBKL). Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (PBKL) adalah pendidikan yang memanfaatkan keunggulan lokal dalam aspek ekonomi, budaya, bahasa, teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, dan lain-lain, yang semuanya bermanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta didik. Perkembangan teknologi menuntut sekolah untuk mampu beradaptasi mengikuti perkembangan teknologi tersebut termasuk dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk pembelajaran dan manajemen sekolah. Oleh karena itu sekolah perlu didorong dan dipersiapkan untuk mengembangkan kemampuan dan potensinya dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Program yang disiapkan Direktorat Pembinaan SMA dalam pengembangan TIK di sekolah salah satunya adalah Pusat Sumber Belajar (PSB). Pusat Sumber Belajar SMA (PSB-SMA) merupakan sistem pengelolaan yang terorganisasi untuk menyusun, mengembangkan, dan menyediakan sumber belajar dalam mendukung proses pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai media informasi dan komunikasi, wahana belajar, dan media unjuk kinerja.

Pemenuhan SKM, PBKL dan PSB merupakan target pembinaan Direktorat Pembinaan SMA yang telah dirintis pada tahun 2007 sampai dengan 2009 melalui program Rintisan Sekolah Kategori Mandiri (RSKM), Rintisan Pendidikan Keunggulan Lokal (RPBKL) dan Rintisan Pusat Sumber Belajar (RPSB). Program tersebut selanjutnya dikembangkan secara terintegrasi dalam satu program sejak tahun 2010 yaitu program pembinaan SMA Pelaksana SKM-PBKL-PSB. Program pembinaan tersebut dilakukan pada 132 SMA yang dilaksanakan dalam tiga tahapan pembinaan yaitu penataan (2010), pengembangan (2011), dan pemantapan (2012). Pembinaan yang diberikan pada 132 SMA Pelaksana SKM-PBKL-PSB meliputi asistensi dan sinkronisasi program sekolah, pemberian dana bantuan sosial, dan peningkatan pengelolaan PSB. Perkembangan sekolah dalam pemenuhan profil SMA Pelaksana SKM-PBKL-PSB dilakukan melalui supervisi dan evaluasi.

Hasil validasi ada beberapa masukan dari tim diantaranya:
Perkembangan sebagai sekolah model SKM dan PSB diantaranya: Warga sekolah mampu memberikan layanan yang bagus pada pelanggan (coustumer), Penampilan warga sekolah sangat bagus dan menyenangkan, Upaya mewujudkan prestasi peserta didik sangat bagus, Warga sekolah terbanguan tim yang solid dan sinergie, Sarana pendukung, sarana & prasarana, infrastrukur, IT, jaringan internet sangat bagus, Dukungan internal dan eksternal sangat bagus., Kreativitas Pendidik/Guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik memiliki kemauan, kemampuan, dan komitmen yang tinggi untuk maju, Ruang dan ruang-ruang untuk kegiatan atau aktivitas kerja guru, tenaga pendidik dan kependidikan tersedia lengkap. Ruang UKS mempunyai Poli Umum dan Gigi, serta sarana ruang rawat dan tindakan tersedia lengkap, Perkembangan pengelolaan sekolah menuju SKM telah meningkat jika dibandingkan pada tahun 2010. Uraian kalimat disusun terlalu panjang, sebenarnya ada beberapa substansi pokok yang bisa disatukan/dipadatkan. (Faktanya Wakasek, dan Guru tidak hafal dengan Visi tsb)

Analsis SK, KD dan Penetapan KKM dan pelaksanaan PBKL
Analisis SK, KD Penetapan indikator pencapaian kompetensi, masih belum memperhatikan ranah tahapan berfikir, dari yang mudah ke sulit. (Faktanya indikator yang disusun masih tidak urut dengan tingkatan ranahnya). Indikator belum secara optimal digunakan untuk rujukan dalam menentukan : Materi Pokok, Kegiatan Pembelajaran, Penilaian, dan Alokasi waktu. (Faktanya pada Silabus yang disusun oleh guru terdapat : Materi pokok, Kegiatan Pembelajaran, Penilaian, dan Alokasi waktu masih kurang sinkron dengan indikator yang ditetapkan).

Nilai KKM tidak dicantumkan dalam Dokumen KTSP (Buku I), justru malah dilampirkan pada program kerja sekolah. Seharusnya KKM ditetapkan dan ditulis pada Dokumen KTSP sebagai keputusan satuan pendidikan. Nilai KKM homogen, karena analisa KKM tidak memperhatikan kaidah dan kondisi faktual di sekolah. Analisis hasil ulangan harian tidak dilakukan secara konsisten, sehingga selain Intake siswa dan Analisisi hasil Ulangan Harian tidak bisa dipakai bahan pertimbangan dalam menentukan nilai KKM.Daya dukung sarana pendidikan kurang dipakai sebagai acauan dalam penetapan nilai KKM, Nilai KKM Klas X, XI, dan XII semuanya 75, kecuali mata pelajaran Mulok (Bahasa Jawa) dengan nilai 70
Analisis penetapan PBKL kurang fokus pada keunggulan daerah Yogyakarta, dimana terdapat perbedaan antara unsur yang mendukung dengan PBKL yang ditetapkan. Fakta rumusan PBKL :

Hasil rumusan potensi keunggulan PBKL SMA Negeri 7 Yogyakarta, yaitu : Sejarah perkembangan wilayah yaitu Yogyakarta menjadi pusat kerajaan Mataram yang sampai sekarang masih disimbulkan dengan adanya Gubernur dengan gelar Sri Sultan. Budaya yang berkembang yaitu Yogyakarta kota budaya jawa yang bersifat Adiluhung, terdapatnya situs-situs peninggalan yang memiliki budaya tinggi, kehidupan masyarakat yang masih menjunjung tinggi kultur jawa. Potensi kesejarahan dan Budaya Dominan yaitu Yogyakarta masih menunjung tinggi nilai-nilai budaya yang positif dan keberlangsungan historis sistem kerajaan yang dilambangkan dengan eksisnya kerajaan Yogyakarta. Ketiga hasil analisis potensi daerah di atas merupakan simpulan potensi daerah Yogyakarta, tetapi ketika diputuskan program PBKLnya adalah BATIK. Pengetahuan tentang batik secara kognitif bisa diintegrasikan pada beberapa mata pelajaran, tetapi pada tataran kompetensi psyikomotor/praktek membuat Batik, seharusnya diajarkan melalui mata pelajaran Ketrampilan, Mulok, dan/atau Pengembangan Diri. Hal ini disebabkan di SMAN 7 Yogyakarta PBKL tidak dimasukkan di pengembangan diri dan ketrampilan karena sesuai dengan Struktur Kurikulum yang ada dan fakta keseharian di SMAN 7 Yogyakarta tidak ada mata pelajaran Ketrampilan. Struktur Kurikulum pada mata pelajaran Ketrampilan/Bahasa Asing pada kelas X diisi dengan mata pelajaran Bahasa Jepang, dan Kelas XI, dan XII dengan bahasa Jerman.

Penilaian akhlak mulia dan kepribadian dilakukan pada saat akhir semester, seharusnya penilaian dilakukan secara rutine dan berkelanjutan. (Faktanya, guru menyerahkan nilai diakhir semester dengan satu nilai untuk 10 komponen nilai akhlak dan kepribadian untuk memenuhi pengisian nilai raport. (Fakta yang ditemukan tidak ada dokumen nilai yang dimiliki oleh dilakukan secara berkelanjutan).

Belum ada tanggapan dari pembaca

Silakan berkomentar melalui formulir berikut: