<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Drs. Bandono, MM &#187; Konseling</title>
	<atom:link href="http://bandono.web.id/category/konseling/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bandono.web.id</link>
	<description>Guru Pembimbing dan Koordinator TIK SMA Negeri 7 Yogyakarta</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 May 2012 01:01:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Workshop Kepala SMA Model Ditutup Kasubdit Pembelajaran</title>
		<link>http://bandono.web.id/2010/10/30/workshop-kepala-sma-model-ditutup-kasubdit-pembelajaran.php</link>
		<comments>http://bandono.web.id/2010/10/30/workshop-kepala-sma-model-ditutup-kasubdit-pembelajaran.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Oct 2010 08:18:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Drs. Bandono, MM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konseling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bandono.web.id/?p=567</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu Legi tanggal 30 Oktober 2010 berakhir sudah mata rangkaian kegiatan Workshop Kepala SMA Model yang diikuti 132 peserta se Indonesia ditutup secara resmi oleh Ibu Ir. Diah Widyowatie, MM selaku Kasubdit Pembelajaran Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan Nasional di Hotel Hotel Grand Preanger Jl. Asia Afrika Nomor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabtu Legi tanggal 30 Oktober 2010 berakhir sudah mata rangkaian kegiatan Workshop Kepala SMA Model yang diikuti 132 peserta se Indonesia ditutup secara resmi oleh Ibu Ir. Diah Widyowatie, MM selaku Kasubdit Pembelajaran Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan Nasional di Hotel Hotel Grand Preanger Jl. Asia Afrika Nomor 81 &#8211; Bandung – Jawa Barat<span id="more-567"></span></p>
<p>Sebelum penutupan dilaksanakan terlebih dahulu penyampaian tim perumus Nasional kepala SMA Model yang diwakili oleh bapak Drs. Heriyanto, M.Pd, Kepala SMAS Al Bayan Sukabumi menyampaikan beberapa aspek dari hasil rumusan masing-masing wilayah dirangkum menjadi rumusan masalah yang sifatnya nasional yaitu:</p>
<p>Permasalahan yang sifatnya umum yaitu keterlaksanaan program di ukur berdasarkan waktu pelaksanaan supervisi dan rentang waktu peluncuran program, supervise tahap pertama dan supervise tahap kedua yang terlalu dekat. Perbedaan persepsi antar supervisor dengan sekolah dan terdapat beberapa instrument yang harus ditinjau ulang</p>
<p>Rumusan program tindak lanjut standar isi yang berhubungan dengan PBKL Sekolah belum  melakukan teknik analisis keunggulan lokal dan Penyusunan Program PBKL, Sekolah belum memahami pelaksanaan Program PBKL, Sekolah belum mengembangkan silabus muatan lokal secara mandiri, Dokumen KTSP Sekolah belum maksimal  melakukan analisis konteks, Visi misi belum mencerminkan TIK, Sekolah belum memiliki TPK<br />
Standar Kompetensi Lulusan Sekolah  belum menetapkan kriteria kelulusan US &gt;= KKM Mapel</p>
<p>Standar Proses Jumlah siswa per rombongan belajar lebih dari 32, Beban mengajar guru belum 24 jam per minggu, Sekolah belum melaporkan hasil Supervisi dan Evaluasi, Sekolah belum membuat program tindak lanjut hasil supervise, Sekolah belum melaporkan hasil Supervisi dan Evaluasi, Sekolah belum membuat program tindak lanjut hasil supervise. Sekolah belum memiliki tenaga laboran, dan Pustakawan dan teknisi IT yang sesuai dg latar Pendidikan</p>
<p>Standar Pendidik dan Kependidikan SIM dalam bentuk  PAS  belum diterapkan disekolah, Guru yang telah bersertifikasi belum mencapai 75 %,</p>
<p>Standar Sarana dan Prasarana Belum semua sekolah  memenuhi standar sarana /Prasarana, Website sekolah belum berbasis Portal.</p>
<p>Standar Pengelolaan Sekolah belum menjalin kemitraan, Sekolah belum membuat program kerja implementasi PBKL. Sekolah belum melakukan evaluasi dan pengembangan PSB.</p>
<p>Standar Penilaian Sekolah belum memiliki panduan penyampaian ketidakpuasan dalam penilaian.</p>
<p>Standar Pembiayaan Sekolah belum menggali dana dari berbagai sumber untuk penerapan PBKL<br />
Daya Dukung Eksternal Sekolah belum maksimal melakukan hubungan kerja sama dengan Potensi eksternal</p>
<img src="http://bandono.web.id/?ak_action=api_record_view&id=567&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bandono.web.id/2010/10/30/workshop-kepala-sma-model-ditutup-kasubdit-pembelajaran.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bimbingan dan Konseling</title>
		<link>http://bandono.web.id/2010/09/30/bimbingan-dan-konseling.php</link>
		<comments>http://bandono.web.id/2010/09/30/bimbingan-dan-konseling.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Sep 2010 03:16:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Drs. Bandono, MM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konseling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bandono.web.id/?p=485</guid>
		<description><![CDATA[Standar Nasional Pendidikan (SNP) merupakan kriteria minimal tentang sistem pendidikan di Indonesia yang ditetapkan oleh pemerintah dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.  Pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dimaksudkan untuk mengakomodasi  satuan  pendidikan  dalam  mencapai  SNP  mengingat  adanya  disparitas situasi,  potensi serta kebutuhan peserta didik maupun lingkungan atau daerah.  Implikasi dari pernyataan tersebut  adalah bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Standar Nasional Pendidikan (SNP) merupakan kriteria minimal tentang sistem pendidikan di Indonesia yang ditetapkan oleh pemerintah dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.  Pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dimaksudkan untuk mengakomodasi  satuan  pendidikan  dalam  mencapai  SNP  mengingat  adanya  disparitas situasi,  potensi serta kebutuhan peserta didik maupun lingkungan atau daerah.  Implikasi dari pernyataan tersebut  adalah bahwa penyusunan dan pelaksanaan KTSP oleh satuan pendidkan harus memperhatikan  kebutuhan, karakteristik  dan potensi satuan pendidikan (internal)  serta lingkungan  di  daerah  setempat. <span id="more-485"></span></p>
<p>Sebagai  pedoman  dalam  penyelenggaraan pembelajaran, KTSP  memuat komponen-komponen yang berkaitan dengan pembelajaran. Salah satu dari komponen tersebut adalah struktur dan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Muatan  KTSP   meliputi  sejumlah  mata  pelajaran  yang  keluasan  dan  kedalamannya merupakan beban  belajar bagi peserta didik, muatan lokal dan  kegiatan pengembangan diri pada satuan pendidikan.</p>
<p>Kegiatan  pengembangan  diri  merupakan  kegiatan  pendidikan  di  luar  mata  pelajaran sebagai  bagian integral dari isi kurikulum sekolah dalam rangka  pembentukan watak dan kepribadian peserta didik.  Kegiatan  pengembangan  diri  ini  dilakukan  melalui  kegiatan layanan  bimbingan konseling dan kegiatan kstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri berupa pelayanan  BK difasilitasi/ dilaksanakan oleh guru BK/ konselor dan atau tenaga kependidikan lain sesuai dengan kemampuan dan kewenangannya. Pengembangan diri yang dilakukan dalam bentuk kegiatan pelayanan konseling dapat mengembangkan kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.</p>
<p>Adapun tujuan kegiatan layanan bimbingan konseling adalah untuk  memfasilitasi peserta didik   berkenaan  dengan  masalah  diri  pribadi  dan  kehidupan  sosial,  belajar,  dan pembentukan karier.</p>
<p>Dalam implementasinya, ditemukan beberapa kendala dan masukan dalam penyelenggaraan kegiatan pengembangan diri yang dilaksanakan oleh satuan pendidikan, antara lain: 1) seluruh sekolah  telah   melaksanakan  program  pengembangan  diri,  namun  belum  semuanya menyusun  program/panduan  pelaksanaan  sesuai  dengan  ketentuan  yang  diatur  dalam standar  pengelolaan;  2)  pemanfaatan  guru  BK  dalam  pengembangan  diri  di  sejumlah sekolah belum optimal; 3) pada umumnya pelaksanaan layanan konseling di sekolah masih terbatas pada hal-hal  yang berkaitan dengan masalah individual di bidang sosial, belum mengarah  pada  Layanan  Akademik  yang  terstruktur;  3)  belum  semua  sekolah  mampu mengembangkan penilaian program pengembangan diri, sehingga penilaian seringkali hanya dilakukan berdasarkan intuisi saja; 4)  masih  terdapat guru BK yang menganggap bahwa pengembangan diri adalah mata pelajaran, sehingga harus ada SK, KD, silabus dan wajib masuk kelas.</p>
<p>Berkaitan  dengan  permasalahan/kendala  dan  masukan  tersebut  di  atas,  Direktorat Pembinaan SMA melengkapi Panduan Pengembangan Diri yang telah ada dengan “Petunjuk Teknis  Penyusunan Program Pengembangan Diri Melalui Layanan Bimbingan Konseling di SMA”. &#8220;<a href="http://bandono.web.id/files/Juknis_Layanan_Konseling.pdf"><strong>Silahkan diunduh</strong></a>&#8221;</p>
<p>Sumber: Bintek KTSP</p>
<img src="http://bandono.web.id/?ak_action=api_record_view&id=485&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bandono.web.id/2010/09/30/bimbingan-dan-konseling.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keterampilan Genuin</title>
		<link>http://bandono.web.id/2010/04/30/keterampilan-genuin.php</link>
		<comments>http://bandono.web.id/2010/04/30/keterampilan-genuin.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 03:36:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Drs. Bandono, MM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konseling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bandono.web.id/?p=366</guid>
		<description><![CDATA[Perilaku jujur terhadap pikiran dan perasaan yang sedang dialami yang diekspresikan melalui perkataan dan tingkah laku apa adanya merupakan sikap dan tingkah laku konselor yang menyiratkan kesejatian atau keaslian (genuin). Dalam pelatihan ini anda akan belajar berbagai (sharring) berbagai perasaan anda sendiri tentang apa yang dikatakan atau dilakukan konseli, dan mempertahankan atau meningkatkan hubungan baik. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perilaku jujur terhadap pikiran dan perasaan yang sedang dialami yang diekspresikan melalui perkataan dan tingkah laku apa adanya merupakan sikap dan tingkah laku konselor yang menyiratkan kesejatian atau keaslian (genuin). Dalam pelatihan ini anda akan belajar berbagai (sharring) berbagai perasaan anda sendiri tentang apa yang dikatakan atau dilakukan konseli, dan mempertahankan atau meningkatkan hubungan baik. Melalui berbagai latihan, anda akan mampu mengekspresikan perasaan-perasaan anda sendiri, bukan menyembunyikan atau melampiaskan perasaan-perasaan tersebut secara agresif.<span id="more-366"></span></p>
<p>Dalam suatu komunikasi antara konselor dengan konseli, ketidak jujuran atau menutup-nutupi berbagai perasaan yang berkecamuk dalam diri konselor seyogyanya dihilangkan. Konselor harus memancarkan kejujuran dan keterbukaan terhadap konseli. Pertanyaan yang muncul adalah Dalam suatu komunikasi antara konselor dengan konseli, ketidak jujuran atau menutup-nutupi berbagai perasaan yang berkecamuk dalam diri konselor seyogyanya dihilangkan. Konselor harus memancarkan kejujuran dan keterbukaan terhadap konseli. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana jika dalam diri konselor muncul perasaan tidak suka kepada konseli, haruskah perasaan itu secara jujur dikemukakan kepada konseli? Akankah kujujuran tersebut merusak hubungan antar pribadi?. Kejujuran konselor harus disampaikan atau diekspresikan secara tepat sehingga tidak melukai hati konseli. Sebagai konselor, sebelum anda dapat mengekpresikan perasaan-perasaan anda, anda harus menyadari adanya perasaan-perasaan tersebut. Untuk mengimunikasikan keterbukaan dan kejujuran kepada konseli, pertama kali anda harus menguasai diri dan perasaan-perasaan anda, sadar diri siapa diri anda beserta pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan  yang ada pada diri anda. Kemampuan ini meliputi bagaimana anda belajar membedakan berbagai perasaan yang hinggap dalam diri tanpa harus menyangkalnya atau menutup-nutupi. Jika anda merasa bahagia, anda dapat menyadari bahwa anda bahagia, atau ketika anda merasa marah, anda dapat menyadari adanya kemarahan anda tersebut.</p>
<p>Untuk berlatih mengekspresikan keaslian atau kejujuran atau kesejatian perasaan dan pikiran, anda perlu belajar membedakan atara respon-respon yang tidak responsif, respon yang tidak genuin, dan respon yang geniun. Sebagai contoh, dalam situasi dimana konseli mengemukakan ”Saya jengkel dan kesal kepada kaka Saya” respon yang tidak responsif adalah ”Kamu harus benar-benar menyukai kakakmu:. Kamu harus hormat kepada kakakmu:, Respon yang tidak geniun terhadap pernyataan konseli misalnya, ”Anda membuat pernyataan yang memalukan tentang kakakmu”, ”Jika anda jengkel dan eksal kepada kakak anda, saya rasa tidak mudah untuk berpisah darinya dan pergi meninggalkan rumah”</p>
<p>Sumber: Suwarjo (2009) Praktik Keterampilan Konseling (Bahan PLPG) Yogyakarta: Univeristas Negeri Yogyakarta (UNY)</p>
<img src="http://bandono.web.id/?ak_action=api_record_view&id=366&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bandono.web.id/2010/04/30/keterampilan-genuin.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keterampilan Merangkum</title>
		<link>http://bandono.web.id/2010/03/15/keterampilan-merangkum.php</link>
		<comments>http://bandono.web.id/2010/03/15/keterampilan-merangkum.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Mar 2010 04:09:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Drs. Bandono, MM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konseling]]></category>
		<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bandono.web.id/?p=311</guid>
		<description><![CDATA[Keterampilan merangkum merupakan bagian dari keterampilan mendengarkan secara aktif terhadap apa yang menjadi inti pembicaraan konseli. Keterampilan ini sangat berguna bagi konselor dalam membantu konseli mengidentifikasi masalah. Selain itu melalui keterampilan ini konselor juga menyisipkan kesadaran baru kepada konseli atas problem yang dimilikinya. Bagi konselor keterampilan ini sangat bermanfaat untuk membantu konseli fokus pada masalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keterampilan merangkum merupakan bagian dari keterampilan mendengarkan secara aktif terhadap apa yang menjadi inti pembicaraan konseli. Keterampilan ini sangat berguna bagi konselor dalam membantu konseli mengidentifikasi masalah. Selain itu melalui keterampilan ini konselor juga menyisipkan kesadaran baru kepada konseli atas problem yang dimilikinya. Bagi konselor keterampilan ini sangat bermanfaat untuk membantu konseli fokus pada masalah yang sedang dihadapi serta menumbuhkan kesadaran konseli untuk memandang masalah dari sudut pandang yang berbeda.<span id="more-311"></span></p>
<p>Dalam proses konseling seringkali konseli mengemukakan berbagai isi hatinya dan terkadang tidak fokus pada satu persoalan tertentu. Tidak jarang pula konseli mencampur-baurkan antara masalah sebagai fakta dengan masalah yang berkembang sebagai akibat dari penafsiran atau persepsi mereka terhadap masalah faktual tersebut. Persepsi konseli terhadap masalah inilah yang membuat respon konseli unik. Dengan kata lain, suatu masalah yang sama akan dihayati secara berbeda-beda oleh dua orang atau lebih. Kadang kala masalah akan terasa menjadi lebih besar akibat penghayatan individu yang berlebihan terhadap masalah tersebut. Meskipun demikian seorang konselor tidak boleh memberikan penilaian (judgment) atas persepsi konseli seperti ”Ah itu kan hanya perasaanmu saja” ”Kamu kok cengeng sih, begitu aja dibesar-besarkan”.</p>
<p>Seorang konselor harus penuh perhatian kepada konseli. Dalam proses komunikasi konseling, konselor harus dapat menangkap pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan penting yang diekspresikan oleh konseli. Pada saat yang sama konselor juga dituntut mampu memberikan umpan balik (feed back) kepada konseli pada bagian-bagian yang penting dan sekaligus memberikan kesempatan kepada konseli untuk memperoleh kesadaran baru terhadap masalah yang sedang dihadapinya. Untuk mampu melakukan hal-hal tersebut keterampilan merangkum perlu dikuasai oleh seorang konselor.</p>
<p>Merangkum dalam komunikasi konseling adalah aktivitas konselor mengungkapkan kembali pokok-pokok pikiran dan perasaan yang diungkapkan konseli. Dalam suatu dialog yang panjang antara konseli dan konselor, banyak pokok-pokok pikiran dan perasaan konseli yang diungkapkan secara berserakan. Konselor harus mencermati pokok-pokok pikiran dan perasaan tersebut, mengingat dalam hati, mengidentifikasi dalam hati, lalu pada saat yang tepat mengungkapkan kembali  kepada konseli dengan gaya bahasa konselor sendiri. Ketepatan konselor membuat  rangkuman akan menumbuhkan kesan pada konseli bahwa konseli diperhatikan, didengarkan kata-katanya, dipahami dan diterima kehadirannya oleh konselor. Perlu diingat bahwa kata-kata untuk mengawali rangkuman perlu ditata dengan baik sehingga tidak ada kesan konselor menghakimi.</p>
<p>Beberapa kata yang dapat digunakan untuk mengawali suatu rangkungan misalnya ; ” Saya mendengar bahwa anda benar-benar mengatakan&#8230;”. ”Hal yang anda katakan mengesankan bahwa&#8230; ”. ”Makna yang ada dibalik hal-hal yang anda ungkapkan adalah&#8230;..”. ”Makna yang ada dibalik ungkapan perasaan anda adalah&#8230;..”. Poin-poin penting yang anda kemukakan adalah;&#8230;”</p>
<p>Suwarjo (2009) Praktik Keterampilan Konseling (Bahan PLPG) Yogyakarta: Univeristas Negeri Yogyakarta (UNY)</p>
<img src="http://bandono.web.id/?ak_action=api_record_view&id=311&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bandono.web.id/2010/03/15/keterampilan-merangkum.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keterampilan Bertanya dalam Proses Konseling</title>
		<link>http://bandono.web.id/2010/01/09/keterampilan-bertanya-dalam-proses-konseling.php</link>
		<comments>http://bandono.web.id/2010/01/09/keterampilan-bertanya-dalam-proses-konseling.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 04:09:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Drs. Bandono, MM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konseling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bandono.web.id/?p=299</guid>
		<description><![CDATA[Keterampilan bertanya merupakan salah satu bagian penting dari suatu dialog antara konselor dengan konseli. Pertanyaan yang baik sangat membantu konseli dalam memperoleh pemahaman tentang berbagai hal yang menjadi dan atau terkait dengan topik pembicaraan. Cara-cara mengajukan pertanyaan yang baik membutuhkan keterampilan. Dalam komunikasi antara konselor dan konseli, konselor dapat membantu konseli untuk memperoleh pemahaman yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keterampilan bertanya merupakan salah satu bagian penting dari suatu dialog antara konselor dengan konseli. Pertanyaan yang baik sangat membantu konseli dalam memperoleh pemahaman tentang berbagai hal yang menjadi dan atau terkait dengan topik pembicaraan. Cara-cara mengajukan pertanyaan yang baik membutuhkan keterampilan. <span id="more-299"></span></p>
<p>Dalam komunikasi antara konselor dan konseli, konselor dapat membantu konseli untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup. Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang memungkinkan konseli memberikan jawaban secara terbuka dan luas. Pertanyaan terbuka dapat membantu konseli menggali dirinya guna memperoleh pemahaman diri yang lebih baik. Melalui penggunaan pertanyaan terbuka, konselor juga mengkomunikasikan minatnya untuk membantu konseli dalam mengeksplorasi diri. Pertanyaan terbuka dapat diungkapkan misalnya dengan ”Apa yang anda pikirkan ketika merenung sendirian?”. Bagaimana perasaan anda ketika dia meninggalkan anda? ”Apa rencana anda selanjutnya”</p>
<p>Pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang biasanya dapat dijawab dengan jawaban ya atau tidak, atau dijawab dengan satu atau dua kata. Beberapa contoh pertanyaan tertutup adalah ”Ketika ibumu meninggal kamu berusia berapa tahun? ”Apakah anda merasa kesal atas perlakuan yang anda terima?” ”Berapa jumlah saudara kadnungmu?”. Pertanyaan tertutup cenderung memutus pembicaraan. Pertanyaan tertutup lebih menekankan pada isi pembicaraan yang faktual dari pada memperhatikan perasaan. Jika konselor menginginkan konseli berbicara banyak tentang berbagai hal, penggunaan pertanyaan tertutup kurang tepat. Meskipun demikian, jika konselor menginginkan konseli memberikan suatu jawaban yang singkat dan jelas, pertanyaan tertutup tepat digunakan. Pertanyaan tertutup sering kali menimbulkan kesan pada konseli bahwa konselor kurang menaruh perhatian kepada konseli.</p>
<p>Sumber:Suwarjo (2009) Praktik Keterampilan Konseling (Bahan PLPG) Yogyakarta: Univeristas Negeri Yogyakarta (UNY)</p>
<img src="http://bandono.web.id/?ak_action=api_record_view&id=299&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bandono.web.id/2010/01/09/keterampilan-bertanya-dalam-proses-konseling.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BK Sekolah Komprehensif</title>
		<link>http://bandono.web.id/2009/11/09/penyusunan-program-bk-sekolah-komprehensif.php</link>
		<comments>http://bandono.web.id/2009/11/09/penyusunan-program-bk-sekolah-komprehensif.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 02:09:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Drs. Bandono, MM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Konseling]]></category>
		<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bandono.web.id/?p=254</guid>
		<description><![CDATA[Melalui pemahaman dan penguasaan yang mendalam tentang asumsi pokok program BK yang bersifat komprehensif dan penjabaran dalam komponen-komponen program, maka konselor diharapkan dapat menyusun dan mengembangkan rencana aksi layanan BK dengan tujuan dan target terukur serta berdasarkan skala prioritas layanan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa seorang konselor harus menyadari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Melalui pemahaman dan penguasaan yang mendalam tentang asumsi pokok program BK yang bersifat komprehensif dan penjabaran dalam komponen-komponen program, maka konselor diharapkan dapat menyusun dan mengembangkan rencana aksi layanan BK dengan tujuan dan target terukur serta berdasarkan skala prioritas layanan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa seorang konselor harus menyadari sepenuhnya bahwa tujuan-tujuan yang akan ditetapkan dalam perencanaan program BK harus menjadi bagian integral dari tujuan pendidikan nasional pada umumnya dan visi/misi yang ada di sekolah secara khusus. Dengan demikian, petugas bimbingan dan konseling mampu dengan tepat menentukan bagaimana cara yang efektif untuk mencapai tujuan beserta sarana-sarana yang diperlukannya.<span id="more-254"></span></p>
<h3>Bimbingan dan Konseling sebagai Sistem dan Subsistem</h3>
<p>Berdasarkan asumsi dasar tentang sifat menyeluruh (komprehensif) program BK, kegiatan BK merupakan suatu rangkaian kegiatan yang saling bertalian, sambung-menyambung, dan setiap bagian memiliki ikatan kesatuan dengan bagian yang lain yang berorientasi pada pencapaian tujuan tertentu. Dengan demikian, kegiatan BK dapat dianggap sebagai subsistem dalam sistem pendidikan yang menjadi induknya. Rangkaian kegiatan BK pada akhirnya memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan rangkaian kegiatan sekolah lainnya.</p>
<p>Sementarai itu, BK sebagai suatu sistem  memiliki tiga aspek utama (Gunawan, 2001), yakni:</p>
<ol>
<li>Tujuan yang hendak dicapai sebagai aspek utama yang harus ditentukan terlebih dahulu. Penetapan tujuan akan memudahkan konselor menentukan strategi yang akan dikembangkan dalam rangka mencapai tujuan yang dimaksud</li>
<li>Kegiatan pokok yang menunjang langsung tercapainya tujuan. Bagian-bagian pokok dari suatu sistem dan strategi yang dikembangkan biasanya disebut sebagai penjabaran aktivitas dari suatu strategi yang di dalamnya terdapat aktivitas utama yang hendak dilakukan. Dengan kata lain, tercapainya tujuan hanya mungkin terjadi melalui implementasi kegiatan-kegiatan yang dimaksud. Kegiatan-kegiatan yang dikembangkan sebaiknya dirumuskan secara tepat sasaran dan dengan dampak yang terukur</li>
<li>Implementasi kegiatan (proses) atau berfungsinya isi dari suatu strategi yang mengarah pada pencapaian tujuan. Kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan semaksimal mungkin harus diusahakan dapat terlaksana sebaik mungkin.</li>
</ol>
<p>Ketiga aspek dari program BK sebagai sistem tersebut saling berkaitan dan satu kesatuan organis yang berproses menuju tujuan layanan ataupun program yang hendak dicapai. Dalam rangka itu, modul materi ini bermuara pada fasilitasi keterampilan praktis bagi konselor tentang prosedur penyusunan program BK yang memperhatikan berbagai asumsi dasar dan komponen layanan yang telah dijelaskan sebelumnya.</p>
<h3>Sistematika Penyusunan dan Pengembangan Program BK</h3>
<p>Sistematika penyusunan dan pengembangan program BK Sekolah yang komprehensif pada dasarnya terdiri dari dua langkah besar, yaitu: a) pemetaan kebutuhan, masalah, dan konteks layanan; dan b) desain program yang sesuai dengan kebutuhan, masalah, dan konteks layanan. Adapun penjabaran dari tiap-tiap langkah besar sebagai berikut:</p>
<p><strong>1. Desain Program BK dan Rencana Aksi (Action Plan)</strong></p>
<p>Berikut ini adalah penjabaran rencana operasional (action plan) yang diperlukan Action plan yang akan disusun paling tidak memenuhi unsur 5W+1H (what, why, where, who, when, and how). Dengan demikian, konselor dan petugas bimbingan perlu melakukan hal-hal berikut ini: 1)Identifikasikan dan rumuskan berbagai kegiatan yang harus/perlu dilakukan. Kegiatan ini diturunkan dari perilaku/tugas perkembangan/kompetensi yang harus dikuasai peserta didik.,2)Pertimbangkan porsi waktu yang diperlukan untuk melaksanakan setiap kegiatan di atas. Apakah kegiatan itu dilakukan dalam waktu tertentu atau terus menerus. Berapa banyak waktu yang diperlukan untuk melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling dalam setiap komponen program perlu dirancang dengan cermat.  Perencanaan waktu ini didasarkan kepada isi program dan dukungan manajemen yang harus dilakukan oleh konselor. Berikut dikemukakan tabel alokasi waktu, sekedar perkiraan atau pedoman relatif dalam pengalokasian waktu untuk konselor dalam pelaksanaan komponen pelayanan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah.,3)Inventarisasi kebutuhan yang diperoleh dari needs assessment ke dalam tabel kebutuhan yang akan menjadi rencana kegiatan. Rencana kegiatan dimaksud dituangkan ke dalam rancangan jadwal kegiatan untuk selama satu tahun. Rancangan ini bisa dalam bentuk matrik; Program Tahunan dan  Program semester.,4)Program bimbingan dan konseling Sekolah/Madrasah yang telah dituangkan ke dalam rencana kegiatan perlu dijadwalkan ke dalam bentuk kalender kegiatan. Kalender kegiatan mencakup kalender tahunan, semesteran, bulanan, dan mingguan.,5)Program bimbingan dan konseling perlu dilaksanakan dalam bentuk (a) kontak langsung, dan (b) tanpa kontak langsung dengan peserta didik. Untuk kegiatan kontak langsung yang dilakukan secara klasikal di kelas (pelayanan dasar) perlu dialokasikan waktu terjadwal 2 (dua) jam pelajaran per-kelas per-minggu. Adapun kegiatan bimbingan tanpa kontak langsung dengan peserta didik dapat dilaksanakan melalui tulisan (seperti e-mail, buku-buku, brosur, atau majalah dinding), kunjungan rumah (home visit),  konferensi kasus (case conference), dan alih tangan (referral).</p>
<p><strong>2. Pemetaan Kebutuhan, Masalah, dan Konteks Layanan</strong></p>
<p>Penyusunan program BK di sekolah haruslah dimulai dari kegiatan asesmen (pengukuran, penilaian) atau kegiatan mengidentifikasi aspek-aspek yang dijadikan bahan masukan bagi penyusunan program/layanan (Depdiknas, 2007). Kegiatan asesmen ini meliputi (1) asesmen konteks lingkungan program yang terkait dengan kegiatan mengidentifikasi harapan dan tujuan sekolah, orangtua, masyarakat, dan stakeholder pendidikan terlibat, sarana dan prasarana pendukung program bimbingan, kondisi dan kualifikasi konselor, serta kebijakan pimpinan sekolah; (2) asesmen kebutuhan dan masalah peserta didik yang menyangkut karakteristik peserta didik; seperti aspek fisik (kesehatan dan keberfungsiannya), kecerdasan, motivasi, sikap dan kebiasaan belajar, minat, masalah-masalah yang dihadapi, kepribadian, tugas perkembangan psikologis.</p>
<p>Melalui pemetaan ini diharapkan program dan layanan BK yang dikembangkan oleh konselor benar-benar dibutuhkan oleh seluruh segmen yang terlibat dan sesuai dengan konteks lingkungan program. Dengan kata lain, program dan kegiatan yang tertuang dalam rencana per semester ataupun tahunan bukan sekedar tuntutan administratif, melainkan tuntutan tanggung jawab yang sungguh harus dilaksanakan secara professional. Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh konselor dalam memetakan kebutuhan, masalah, dan konteks layanan: 1) Menyusun instrumen dan unit analisis penilaian kebutuhan. Eksplorasi peta kebutuhan, masalah, dan konteks membutuhkan instrument asesmen yang berfungsi sebagai alat bantu. Dalam instrumen ini, konselor merumuskan aspek dan indicator beserta item pernyataan/pertanyaan yang akan diukur dan jenis metode yang akan digunakan untuk mengungkap aspek dimaksud. Metode yang dapat digunakan, seperti observasi, wawancara, dokumentasi, dan sebagainya., 2) Implementasi penilaian kebutuhan. Pada tahap ini, konselor sesegera mungkin mengumpulkan data dengan menggunakan instrument yang telah dibuat sebelumnya dengan tujuan memperoleh gambaran kebutuhan dan konteks lingkungan yang akan dirumuskan ke dalam program lebih lanjut., 3)	Analisis hasil penilaian kebutuhan. Setelah data terkumpul, konselor mengolah, menganalisis, dan menginterpretasi hasil penilaian yang diungkap dengan tujuan kebutuhan, masalah, dan konteks program dapat teridentifikasi dengan tepat., 4) Pemetaan kebutuhan/permasalahan. Setelah hasil analisis dan identifikasi masalah terungkap, petugas BK dan konselor membuat peta kebutuhan/masalah yang dilengkapi dengan analisis faktor-faktor penyebab yang memunculkan kebutuhan/permasalahan</p>
<p>Sumber: Fathur Rahman (2009) Penyusunan Program BK di Sekolah (Bahan PLPG) Yogyakarta: Univeristas Negeri Yogyakarta (UNY)</p>
<img src="http://bandono.web.id/?ak_action=api_record_view&id=254&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bandono.web.id/2009/11/09/penyusunan-program-bk-sekolah-komprehensif.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketrampilan Attending</title>
		<link>http://bandono.web.id/2009/11/03/ketrampilan-attending.php</link>
		<comments>http://bandono.web.id/2009/11/03/ketrampilan-attending.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 01:13:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Drs. Bandono, MM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konseling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bandono.web.id/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[Tingkah laku attending sangat berkaitan dengan rasa hormat konselor terhadap konseli yang harus ditampakkan ketika perhatian secara penuh diberikan kepada konseli. Tingkah laku attending sangat penting dalam semua komunikasi positif antar individu. Ketrampilan ini dapat dipelajari dan harus ditempakkan olehh konselor dalam proses pelayanan-pelayanan yang diberikan. Melalui berbagai contoh dan praktik yang cukup, setahap demi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tingkah laku attending sangat berkaitan dengan rasa hormat konselor terhadap konseli yang harus ditampakkan ketika perhatian secara penuh diberikan kepada konseli. Tingkah laku attending sangat penting dalam semua komunikasi positif antar individu. Ketrampilan ini dapat dipelajari dan harus ditempakkan olehh konselor dalam proses pelayanan-pelayanan yang diberikan. Melalui berbagai contoh dan praktik yang cukup, setahap demi setahap ketrampilan ini dapat dikuasai oleh konselor.<span id="more-243"></span></p>
<p>Attending adalah pemberian perhatian fisik kepada orang lain. Attending juga berarti mendengarkan dengan menggunakan seluruh tubuh kita. Attending merupakan komunikasi nonverbal yang menunjukkan bahwa konselor memberikan perhatian secara utuh terhadap lawan bicara yang sedang berbicara. Ketrampilan attending meliputi; keterlibatan tubuh, gerakan tubuh secara tepat, kontak mata, dan lingkungan yang nyaman.</p>
<p><strong>1. Keterlibatan Postur Tubuh</strong><br />
Bahasa tubuh sering kali berbicara lebih keras dari pada bahasa verbal. Suatu komunikasi menjadi lebih kuat jika konselor menampilkan sikap tubuh yang rileks tetapi penuh perhatian dan siap siaga mendengarkan pembicaraan konseli, agak condong kedepan menghadap konseli denan tetap menjaga situasi dan posisi diri yang terbuka dalam jarak yang tepat dari konseli. Seorang pendengar yang baik mengkomunikasikan perhatiannya melalui ekspresi tubuh yang rileks selama pembicaraan berlangsung.</p>
<p>Ekspresi rileks mengandung pesan bahwa Saya merasa nyaman bersamamu dan saya menerima anda. Sedangkan kesiap-siagaan perhatian yang ditunjukkan melalu ekspresi tubuh menunjukkan bahwa Saya merasa apa yang anda ceritakan adalah penting dan saya sungguh memahami anda. Perpaduan antara kedua pesan tubuh tersebut menghasilkan aktivitas mendengarkan yang efektif</p>
<p>Posisi tubuh konselor yang sedikit condong ke depan ke arah konseli, mengkomunikasikan pesan bahwa konselor memberikan perhatian yang lebih besar. Sebaliknya posisi tubuh yang condong ke belakang bersandar pada kursi dipandang kurang memberikan perhatian kepada konseli. Pandangan dengan muka lurus menghadap kearah konseli akan membantu konselor mengkomunikasikan bahwa konselor melibatkan diri secara penuh dalam pembicaraan konseli.</p>
<p>Hal pentinglain yang perlu diperhatikan adalah menjaga posisi tubuh tetap terbuka dengan tidak menyilangkan kaki dan atau menyilangkan tangan. Kaki yang disilangkan, atau tangan yang bersidekap (menyilang rapat kedua tangan) dapat menggambarkan ketertutupan atau sikap bertahan. Jarak antara konselor dengan konseli juga perlu diperhatikan. Jarak yang terlalu dekat atau terlalu jauh akan mengganggu komunikasi karena konseli merasa kurang nyaman. Meskipun demikian jarak yang paling nyaman antara konselor dan konseli sangat tergantung dari budaya masing-masing. Oleh karena Itu konselor seyogyanya mencermati dan peka terhadap  ekspresi atau sinyal yang ditunjukkan oleh konseli terkait dengan jarak yang diambil oleh konselor dan konseli. Pada umumnya jarak 90 – 100 cm adalah jarak yang nyaman bagi kebanyakan masyarakat.</p>
<p><strong>2. Gerak Tubuh Secara Tepat</strong><br />
Gerak tubuh yang tepat merupakan bagian utama dari aktivitas mendengarkan dengan baik. Seorang konselor yang sedang mendengarkan konselinya tetapi tanpa diikuti dengan gerakan tubuh akan tampak kaku, dingin, dan terasa adanya jarak yang jauh.Sebaliknya konselor yang menyertakan gerakan-gerakan aktif saat mendengarkan konseli (bukan gerakan gelisah atau gerakan grogi), akan dimaknai sebagai konselor yang bersahabat, dan hangat. Pada umumnya orang lebih suka berbicara dengan pendengar yang gerakan tubuhnya tidak kaku dan tidak terpaku. Meskipun demikian, hindari gerakan-gerakan tubuh dan mimik wajah yang merusak. Konselor yang baik menggerakkan tubuhnya dalam merespon klien yang sedang berbicara kepadanya.</p>
<p>Sebaliknya konselor yang tidak efektif, melakukan gerakan-gerakan untuk merespon, hal-hal yang tidak terkait dengan pembicaraan konseli, misalnya memainkan pensil dan gelisah, mengetuk-ngetukkan jari, mematah-matahkan (menggeretakkan) tulang jari-jemari secara terus menerus duduk beringsut, secara terus menerus memindah-mindahkan kaki menyilang, duduk dengan satu kaki diangkat dan ditumpangkan pada kaki lainnya sambil digerak-gerakkan.<br />
Ketika seseorang sedang berbicara kepadanya, konselor juga tidak boleh melakukan hal-hal yang dapat merusak suasana seperti, menonton televisi, menggelengkan atau menganggukkan kepala kepada orang lain yang lewat, mengerjakan aktivitas lain seperti membaca koran dan menyiapkan makanan atau minuman</p>
<p><strong>3. Kontak Mata</strong><br />
Kontak mata yang efektif mengekpresikan minat dan keinginan untuk mendengarkan orang lain. Kontak mata mencakup pemusatan pandangan mata secara lembut pada pembicaraan dan kadang-kadang menindahkan pandangan dari wajah konseli ke bagian tubuh lainnya misalnya tangan, dan kemudian kembali ke wajah lalu kontak mata terjadi lagi. Kontak mata tidak terjadi jika konselor memandang jauh membuang pandangan dari konseli, memandang wajah konseli dengan pandangan kosong, dan konselor menghindari tatapan mata konseli.</p>
<p>Kontak mata memungkinkan konseli menyadari penerimaan konselor terhadap diri konseli beserta pesan-pesan dan keluhan-keluhan yang disampaikan konseli. Kontak mata membantu konseli untuk menggambarkan betapa amannya dia bersama dengan konselor. Demikian pula konselor, melalui kontak mata konselor dapat menangkap makna yang lebih mendalam dari berbagai hal yang disampaikan konseli kepadanya. Kontak mata bisa diibaratkan sebagai jendela untuk melihat pengalaman dan dunia pribadi yang mendalam dari kjonseli.</p>
<p>Kemampuan utnuk memiliki kontak mata yang baik merupakan bagian penting dan pokok dari komunikasi antar individu. Kontak mata merupakan salah satu ketrampilan mendengarkan yang efektif. Kontak mata yang buruk mungkin menjadi pertanda dari sebuah ketidak-acuhan atau ketidak tertarikan.</p>
<p><strong>4. Lingkungan Yang Nyaman</strong><br />
Attending menuntut pemberian perhatian kepada orang lain. Hal ini tidak mungkin terjadi dalam lingkungan yang bising, hiruk pikuk, dan kacau. Radio, televisi dan sejenisnya bisa  menjadi penganggu, oleh karena itu perlu dimatikan demikian juga dering telepon.</p>
<p>Suwarjo (2009) Praktik Keterampilan Konseling (Bahan PLPG) Yogyakarta: Univeristas Negeri Yogyakarta (UNY)</p>
<img src="http://bandono.web.id/?ak_action=api_record_view&id=243&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bandono.web.id/2009/11/03/ketrampilan-attending.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fase-fase Dalam Konseling</title>
		<link>http://bandono.web.id/2009/09/02/235.php</link>
		<comments>http://bandono.web.id/2009/09/02/235.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 05:29:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Drs. Bandono, MM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konseling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bandono.web.id/2009/09/02/235/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam proses konseling kadang-kadang teman-teman guru pembimbing banyak melupakan beberapa fase yang dalam kontek konsep teori mengingat dalam prakteknya banyak perubahan-perubahan dalam alam perasaan, pikiran dan perilaku terjadi dalam fase-fase dalam proses konseling dimana ada 5 fase konseling yang perlu dipahami teman-teman guru pembimbing a. Pembukaan Pada fase ini konselor membangun hubungan antar pribadi yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam proses konseling kadang-kadang teman-teman guru pembimbing banyak melupakan beberapa fase yang dalam kontek konsep teori mengingat dalam prakteknya banyak perubahan-perubahan dalam alam perasaan, pikiran dan perilaku terjadi dalam fase-fase dalam proses konseling dimana ada 5 fase konseling yang perlu dipahami teman-teman guru pembimbing<span id="more-235"></span></p>
<p><strong>a. Pembukaan </strong><br />
Pada fase ini konselor membangun hubungan antar pribadi yang memungkinkan pembicaraan terbuka dan terarah dalam wawancara konseling. Meskipun konselii datang menghadap konselor atas inisiatifnya sendiri, konselor tetap harus membangun hubungan antar pribadi agar konseli mau membuka dirinya mau mengungkapkan beban-beban pikiran dan perasaannya</p>
<p><strong>b. Penjelasan Masalah</strong><br />
Konseli mengemukakan hal-hal yang membebani dirinya mungkin berupa perasaan atau pikiran. Pada umumnya konseli mengatakan bahwa dia memiliki masalah. Namun, bagi konselor apa yang diungkapkan oleh konseli sebagai masalah belum lah dapat dipandang sebagai inti masalah melainkan baru lah sebagai suatu gejala masalah. Dengan menggunakan teknik verbal seperti seperti penerimaan, refleksi pikiran, refleksi perasaan, klarifikasi pikiran, klarifikasi perasaan, konselor membantu konseli untuk lebih menyadari pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang sedang menjadi beban hidupnya.</p>
<p><strong>c. Penggalian latar belakang masalah ( analisis masalah atau analisis kasus)</strong><br />
Oleh karena konseli paa fase penjelasan masalah belum menyajikan gambaranl engkap mengenai kedudukan masalahnya, maka diperlukan penjelasan lebih mendalam dan mendetail. Untuk mendapatkan data konseli secara mendalam dan mendetail, maka penggalian data perlu menggunakan sistematika tertentu. Sistematika ini berkaitan dengan pendekatan konseling yang lebih berorientasi pada kognitif, afektif dan behavioristik.</p>
<p><strong>d. Penyelesaian masalah</strong><br />
Berdasarkan apa yang telah digali dalam fase penggalian data, konselor dan konseli membahas bagaimana persoalan dapar diatasi. Konselor menerapkan sistematika penyelesaian masalah yang khas bagi masing-masing pendekatan konseling. Dengan kata lain bila konselor menggunakan pendekatan; Rational Emotive Therapy (berorientasi kognitif) atau Trait-Factor Counseling (berorientasi kognitif) atau konseling behavioristik (berorientasi behavioristik) pada fase analisis kasus, maka dia harus menerapkan langkah-langkah yang diakui oleh pendekatan itu dalam meemukan penyelesaian masalah</p>
<p><strong>e. Penutup</strong><br />
Bila mana konseli telah mantap dengan keputusannya, maka proses konseling dapat diakhiri. Namun pada prinsipnya di setiap akhir pertemuan konseling, konselor melakukan fase penutup. Ada dua macam bentuk fase penutup. yaitu 1)	Bila proses konseling telah selesai, ditandai dengan pembuatan keputusan oleh konseli, konselor atau konseli sendiri dapat membuat ringkasan tentang jalannya proses konseling dan menegaskan kembali keputusan yang telah diambil. Kemudian, konselor memberi semangat pada konseli agar bertekad melaksanakan keputusannya (bombongan). Konselor menawarkan bantuan kepada konseli bila dikemudian  hari konseli memerlukan bantuannya. Akhirnya, konselor berpisah dengan konseli, 2) Bila proses konseling belum selesai, mungkin satu pertemuan bahkan beberapa pertemuan, konselor memberikan ringkasan tentang apa yang  telah dibicarakan samapai sekarang. Kemudian, ditetapkan apa yang harus dilaukan oleh konseli selama jangka waktu sebelum konseli bertemua kembali dengan konselor, artinya ditentukan kapan mereka akan meneruskan pembicaraan</p>
<p>Sumber : Suwarjo (2009) Praktik Keterampilan Konseling (Bahan PLPG) Yogyakarta: Univeristas Negeri Yogyakarta (UNY)</p>
<img src="http://bandono.web.id/?ak_action=api_record_view&id=235&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bandono.web.id/2009/09/02/235.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Drs. DARNO, MA. Membuka Workshop ICT Guru Pembimbing SMA, MAN, SMP dan MTs Kota Yogyakarta di STIM YKPN Yogyakarta</title>
		<link>http://bandono.web.id/2007/06/22/workshop-ict-guru-pembimbing-2007.php</link>
		<comments>http://bandono.web.id/2007/06/22/workshop-ict-guru-pembimbing-2007.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jun 2007 07:34:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Drs. Bandono, MM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Konseling]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bandono.web.id/2007/06/22/workshop-ict-guru-pembimbing-2007/</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari Kamis tanggal 21 Juni 2007 Drs. Darno, MA. selaku Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta didampingi Ketua STIM YKPN Yogyakarta membuka secara resmi Workshop ICT Guru Pembimbing SMA, MAN, SMP dan MTs se-Kota Yogyakarta. Hal ini perlu dilakukan seiring dengan digulirkan Undang-Undang Guru pada bulan Desember tahun 2005, tuntutan profesional guru pembimbing semakin diuji [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Pada hari Kamis tanggal 21 Juni 2007 Drs. Darno, MA. selaku Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta didampingi Ketua STIM YKPN Yogyakarta membuka secara resmi Workshop ICT Guru Pembimbing SMA, MAN, SMP dan MTs se-Kota Yogyakarta. Hal ini perlu dilakukan seiring dengan digulirkan Undang-Undang Guru pada bulan Desember tahun 2005, tuntutan profesional guru pembimbing semakin diuji untuk memberikan pelayanan yang profesional. Kenyataannya di lapangan, para guru pembimbing sering disalah-tafsirkan sebagai guru yang hanya bertugas menangani siswa bermasalah saja. Pada sisi yang lain Guru Pembimbing justru pasif dengan tidak memberikan layanan kepada semua siswa yang hal ini justru menjadi tugas dan tanggung jawabnya.</p>
<p><span id="more-13"></span><br />
<img src="http://bandono.web.id/wp-content/uploads/2007/06/workshop-ict-2007.jpg" alt="Workshop ICT Guru Pembimbing 2007" style="border: 4px solid #cccccc" /></p>
<p style="text-align: justify">Fenomena dilapangan kemajuan teknologi telekomunikasi, media dan informatika serta meluasnya perkembangan infrastruktur informasi global mengubah pola dan cara berkegiatan institusi masyarakat, industri maupun pemerintah. Perkembangan TIK memberikan kesempatan yang lebih luas kepada dunia pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Dengan memanfaatkan TIK proses belajar dapat lebih menyenangkan dan pemahaman menjadi lebih mudah. Dengan dukungan TIK, khususnya melalui jaringan internet, sumber bahan belajar siswa dan ketersediaan informasi tidak terbatas pada guru pembimbing maupun buku pelajaran di kelas</p>
<p style="text-align: justify">Dengan demikian menunjukkan bahwa guru pembimbing tidak hanya memberikan layanan tetapi juga dituntut untuk memiliki kompetensi dalam pengembangan profesinya dengan pembuatan bahan ajar dalam bentuk layanan dan penulisan karya ilmiah. Hal ini merupakan wahana untuk mengembangkan minat peneltian guru pembimbing sehingga terwujud sosok guru yang berkompeten dalam memberikan layanan sekaligus memiliki wawasan peneltian ilmiah yang memadai.</p>
<p style="text-align: justify">Adapun tujuan dari workshop ini adalah; Setelah mengikuti workshop tentang pembuatan bahan ajar (bimbingan) yang berbasis ICT yang nantinya bahan tersebut akan di-<em>upload</em> ke pembelajaran e-learning, peserta workshop diharapkan akan dapat menerapkan berbagai konsep, teori dan praktik dalam pembuatan bahan ajar yang menarik bagi siswa serta pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang PAKEM. Disamping itu guru pembimbing diharapkan mampu untuk menggali data dan informasi sebagai sumber memberikan layanan bimbingan dan konseling  dalam keseluruhan proses pelaksanaan pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)/ICT (<em>Informatics and Communication Technology</em>)</p>
<p style="text-align: justify">Sedangkan Materi yang diberikan dalam workshop adalah Kebijakan Dinas Pendidikan Kota Jogjakarta tentang Peran Guru Bimbingan dan Konseling Dalam KTSP, Teknik Pembuatan dan Pengembangan Bahan Pelayanan Bimbingan dan Konseling Yang berbasis ICT, Praktek Pembuatan dan Pengembangan Bahan Pelayanan Bimbingan dan Konseling Yang berbasis ICT terintegrasi dengan Internet dan pengenalan E-Learning, Reposisi dan Reformasi Bimbingan dan Konseling Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Kedudukan Bimbingan dan Konseling Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Implementasi dan Supervisi Pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.</p>
<p style="text-align: justify">Adapun Pemberi Materi adalah Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kota, Universitas Negeri Yogyakarta Pengajar dari LPMP Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Pengurus MGP Kota Yogyakarta. Acara ini berlangsung selama 3 hari dari tanggal 21 s.d 23 Juni 2007</p>
<img src="http://bandono.web.id/?ak_action=api_record_view&id=13&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bandono.web.id/2007/06/22/workshop-ict-guru-pembimbing-2007.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Silabus BK 2006-2007</title>
		<link>http://bandono.web.id/2007/06/10/silabus-bk-2006-2007.php</link>
		<comments>http://bandono.web.id/2007/06/10/silabus-bk-2006-2007.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jun 2007 04:19:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Drs. Bandono, MM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konseling]]></category>
		<category><![CDATA[Seveners]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bandono.web.id/2007/06/10/silabus-bk-2006-2007/</guid>
		<description><![CDATA[Bimbingan Konseling selain memiliki Program Kerja, juga memiliki silabus dan kisi-kisi yang berfungsi sebagai acuan dalam Pelayanan Bimbingan dan Konseling yang berbasiskan Kompetensi Siswa. Berikut beberapa silabus Layanan Bimbingan Konseling dalam format PDF: Silabus bidang Pribadi Silabus bidang Sosial Silabus bidang Belajar Silabus bidang Karir Tambahan: Silabus bidang Perkembangan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Bimbingan Konseling selain memiliki Program Kerja, juga memiliki silabus dan kisi-kisi yang berfungsi sebagai acuan dalam Pelayanan Bimbingan dan Konseling yang berbasiskan Kompetensi Siswa. Berikut beberapa silabus Layanan Bimbingan Konseling dalam format <abbr title="Portable Document Format">PDF</abbr>:</p>
<ul style="margin-left: 20px">
<li><a href="http://bandono.web.id/files/silabus/silabus-pribadi-2006-2007.pdf">Silabus bidang Pribadi</a></li>
<li><a href="http://bandono.web.id/files/silabus/silabus-sosial-2006-2007.pdf">Silabus bidang Sosial</a></li>
<li><a href="http://bandono.web.id/files/silabus/silabus-belajar-2006-2007.pdf">Silabus bidang Belajar</a></li>
<li><a href="http://bandono.web.id/files/silabus/silabus-karir-2006-2007.pdf">Silabus bidang Karir</a></li>
</ul>
<p><strong>Tambahan:</strong> <a href="http://bandono.web.id/files/silabus/silabus-bidang-perkembangan-2006-2007.pdf">Silabus bidang Perkembangan</a>.</p>
<img src="http://bandono.web.id/?ak_action=api_record_view&id=9&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bandono.web.id/2007/06/10/silabus-bk-2006-2007.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>462</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

