<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Drs. Bandono, MM</title>
	<atom:link href="http://bandono.web.id/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bandono.web.id</link>
	<description>Guru Pembimbing dan Koordinator TIK SMA Negeri 7 Yogyakarta</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Feb 2010 03:34:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Keterampilan Konfrontasi</title>
		<link>http://bandono.web.id/2010/02/02/d-keterampilan-konfrontasi.php</link>
		<comments>http://bandono.web.id/2010/02/02/d-keterampilan-konfrontasi.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 03:34:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Drs. Bandono, MM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bandono.web.id/?p=304</guid>
		<description><![CDATA[Dalam berkonfrontasi dengan konseli, seringkali diperoleh isi pembicaraan atau isi pesan yang bertentangan. Seorang konselor dituntut mampu mengkomunikasikan pesan-pesan ganda (pesan yang bertentangan) tersebut kepada konseli dengan cara-cara yang dapat diterima oleh konseli. Keterampilan untuk mengkomunikasikan pesan ganda tersebut disebut keterampilan konfrontasi.
Konfrontasi adalah usaha sadar konselor untuk mengemukakan kembali dua pesan atau lebih yang saling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam berkonfrontasi dengan konseli, seringkali diperoleh isi pembicaraan atau isi pesan yang bertentangan. Seorang konselor dituntut mampu mengkomunikasikan pesan-pesan ganda (pesan yang bertentangan) tersebut kepada konseli dengan cara-cara yang dapat diterima oleh konseli. Keterampilan untuk mengkomunikasikan pesan ganda tersebut disebut keterampilan konfrontasi.<span id="more-304"></span></p>
<p>Konfrontasi adalah usaha sadar konselor untuk mengemukakan kembali dua pesan atau lebih yang saling bertentangan yang disampaikan konseli. Konfrontasi merupakan salah satu respon konselor yang sangat membantu konseli. Jika disampaikan secara tepat, konfrontasi memungkinkan konselor mengemukakan dua pesan ganda konseli (pesan yang berlawanan) tanpa menimbulkan kemarahan dan sikap bertahan konseli terhadap konselor. Konfrontasi akan membantu konseli untuk menyadari dan menghadapi berbagai pikiran, perasaan dan kenyataan yang terjadi pada dirinya, yang ingin disembunyikan atau diingkarinya. Konfrontasi juga membantu konseli untuk mencapai kesesuaian (congruency) yaitu suatu keadaan dimana kata-kata konseli sesuai dengan tingkah lakunya.</p>
<p>Konselor perlu melakukan konfrontasi apabila pada diri konseli didapati adanya; 1) pertentangan antara apa yang dia katakan dengan apa yang dia lakukan, 2) pertentangan antara dua perkataan yang disampaikan dalam waktu yang berbeda, 3) pertentangan antara perasaan yang dia katakan dengan tingkah laku yang tidak mencerminkan perasaan tersebut.</p>
<p>Dalam praktiknya, konfrontasi diungkapkan melalui kalimat gabungan yang mengandung dua kondisi yang kontradiktif seperti: ” Anda mengatakan bahwa anda senang bersekolah di sekolahmu, tetapi anda sering membolos”. ” Nanda mengatakan sangat senang dengan keputusan orang tua, tetapi Nanda menangis”. ” Tadi kamu katakan bahwa kamu tidak mencintainya tetapi baru saja kamu juga mengatakan bahwa kamu tidak bisa hidup tanpa dia:. Konfrontasi digunakan hanya melalui kata-kata yang merupakan penyimpulan dari perkataan, dan atau perbuatan konseli. Dengan kata lain, konfrontasi mendiskripsikan pesan konseli, mengobservasi tingkah laku konseli, dan bukti-bukti lain yang sedang terjadi pada konseli. Konfrontasi tidak boleh berisikan tuduhan, penilaian atau pemecahan masalah.</p>
<p>Suwarjo (2009) Praktik Keterampilan Konseling (Bahan PLPG) Yogyakarta: Univeristas Negeri Yogyakarta (UNY)</p>
<img src="http://bandono.web.id/?ak_action=api_record_view&id=304&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bandono.web.id/2010/02/02/d-keterampilan-konfrontasi.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keterampilan Bertanya dalam Proses Konseling</title>
		<link>http://bandono.web.id/2010/01/09/keterampilan-bertanya-dalam-proses-konseling.php</link>
		<comments>http://bandono.web.id/2010/01/09/keterampilan-bertanya-dalam-proses-konseling.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 04:09:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Drs. Bandono, MM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konseling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bandono.web.id/?p=299</guid>
		<description><![CDATA[Keterampilan bertanya merupakan salah satu bagian penting dari suatu dialog antara konselor dengan konseli. Pertanyaan yang baik sangat membantu konseli dalam memperoleh pemahaman tentang berbagai hal yang menjadi dan atau terkait dengan topik pembicaraan. Cara-cara mengajukan pertanyaan yang baik membutuhkan keterampilan. 
Dalam komunikasi antara konselor dan konseli, konselor dapat membantu konseli untuk memperoleh pemahaman yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keterampilan bertanya merupakan salah satu bagian penting dari suatu dialog antara konselor dengan konseli. Pertanyaan yang baik sangat membantu konseli dalam memperoleh pemahaman tentang berbagai hal yang menjadi dan atau terkait dengan topik pembicaraan. Cara-cara mengajukan pertanyaan yang baik membutuhkan keterampilan. <span id="more-299"></span></p>
<p>Dalam komunikasi antara konselor dan konseli, konselor dapat membantu konseli untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup. Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang memungkinkan konseli memberikan jawaban secara terbuka dan luas. Pertanyaan terbuka dapat membantu konseli menggali dirinya guna memperoleh pemahaman diri yang lebih baik. Melalui penggunaan pertanyaan terbuka, konselor juga mengkomunikasikan minatnya untuk membantu konseli dalam mengeksplorasi diri. Pertanyaan terbuka dapat diungkapkan misalnya dengan ”Apa yang anda pikirkan ketika merenung sendirian?”. Bagaimana perasaan anda ketika dia meninggalkan anda? ”Apa rencana anda selanjutnya”</p>
<p>Pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang biasanya dapat dijawab dengan jawaban ya atau tidak, atau dijawab dengan satu atau dua kata. Beberapa contoh pertanyaan tertutup adalah ”Ketika ibumu meninggal kamu berusia berapa tahun? ”Apakah anda merasa kesal atas perlakuan yang anda terima?” ”Berapa jumlah saudara kadnungmu?”. Pertanyaan tertutup cenderung memutus pembicaraan. Pertanyaan tertutup lebih menekankan pada isi pembicaraan yang faktual dari pada memperhatikan perasaan. Jika konselor menginginkan konseli berbicara banyak tentang berbagai hal, penggunaan pertanyaan tertutup kurang tepat. Meskipun demikian, jika konselor menginginkan konseli memberikan suatu jawaban yang singkat dan jelas, pertanyaan tertutup tepat digunakan. Pertanyaan tertutup sering kali menimbulkan kesan pada konseli bahwa konselor kurang menaruh perhatian kepada konseli.</p>
<p>Sumber:Suwarjo (2009) Praktik Keterampilan Konseling (Bahan PLPG) Yogyakarta: Univeristas Negeri Yogyakarta (UNY)</p>
<img src="http://bandono.web.id/?ak_action=api_record_view&id=299&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bandono.web.id/2010/01/09/keterampilan-bertanya-dalam-proses-konseling.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SMAN 7 Yk dikunjungi SMAN 1 Terare Lombok Timur</title>
		<link>http://bandono.web.id/2010/01/01/sman-7-yk-dikunjungi-sman-1-terare-lombok-timur.php</link>
		<comments>http://bandono.web.id/2010/01/01/sman-7-yk-dikunjungi-sman-1-terare-lombok-timur.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 03:21:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Drs. Bandono, MM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bandono.web.id/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[Kamis 31 Desember  2009 diujung tahun SMA Negeri 1 Terare Lombok TImur mengunjungi SMA Negeri 7 Yogyakarta yang dipimpin langsung kepala sekolah Bapak  H. Salman , didampingi wakil kepala sekolah dan guru  dalam rangka studi banding dan diskusi tentang pelaksanaan SKM dan diterima oleh Bapak Drs Mawardi kepala sekolah SMA Negeri 7 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kamis 31 Desember  2009 diujung tahun SMA Negeri 1 Terare Lombok TImur mengunjungi SMA Negeri 7 Yogyakarta yang dipimpin langsung kepala sekolah Bapak  H. Salman , didampingi wakil kepala sekolah dan guru  dalam rangka studi banding dan diskusi tentang pelaksanaan SKM dan diterima oleh Bapak Drs Mawardi kepala sekolah SMA Negeri 7 Yogyakarta didampingi waka kurikulum (Dra. Baniyah), dan sarana prasarana (Lilik Lina Heni, S.Pd.) pejabat kesiswaan Drs. H. Ridwan hasyim dan Muslimag, S.Pd. dan Koordinator ICT seveners Drs. Bandono, MM <span id="more-302"></span></p>
<p>Maksud dan tujuan kunjungan adalah ingin manajemen administrasi sekolah, proses pembelajran dan sistem evaluasi, manajemen penyelenggaraan kurikulum, manajemen sistem informasi sekolah dan pemanfaatan ICT, manajemen perpustakaan sekolah serta hal-hal lain, peran dan fungsi komite sekolah dalam penyelenggaraan program sekolah. Model Pelaporan, Pembinaan Olimpiade, Hubungan lintas sektoral, Mitra kerja pendukung pembelajaran, Kegiatan ekstrakulikuler, Sistem pendanaan dan penggajian, Jenis kegiatan, Pengembangan sarana dan prasarana sumber dana, Prestasi Akademik, Output, Renstra dalam rangka pelakanaan SKM.</p>
<p>Dalam pertemuan antara SMA Negeri 7 Yogyakarta dan SMA Negeri 1 Terare Lombok Timur dalam suasana yang tidak formal dan santai lebih banyak membicarakan tentang pelaksanaan Sekolah Kategori Mandiri (SKM), terutama dalam proses pembelajaran termasuk berbagai fasilitas yang disediakan oleh pihak sekolah bekerja sama dengan komite sekolah dan kendala-kendala yang dialami oleh SMA Negeri 7 Yogyakarta diskusi berlangsung kurang lebih 4 jam dilanjutkan kunjungan dilingkungan seveners. diantaranya berkunjung ke lab. bahasa. lab TIK, lab, Biologi, Lab, Fisika, Lab Kimia, AVA, Ruang Multi Media Perpustakaan dan diakhiri penyerahan cindera mata.</p>
<img src="http://bandono.web.id/?ak_action=api_record_view&id=302&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bandono.web.id/2010/01/01/sman-7-yk-dikunjungi-sman-1-terare-lombok-timur.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liburan untuk IHT WONDERSHARE QUIZ CREATOR Ver. 3</title>
		<link>http://bandono.web.id/2009/12/30/liburan-untuk-iht-wondershare-quiz-creator-ver-3.php</link>
		<comments>http://bandono.web.id/2009/12/30/liburan-untuk-iht-wondershare-quiz-creator-ver-3.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 03:18:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Drs. Bandono, MM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bandono.web.id/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[Dalam suasana liburan semester SMA Negeri 7 Yogyakarta dari tanggal 28 sampai dengan tanggal 30 Desember 2009 mengadakan kegiatan In House Training Pengkajian Pengembangan Kurikulum yang didahului dengan laporan ketua penyelenggara Drs. Bandono, MM. menyampaikan laporan tentang maksud dan tujuan diadakannya IHT ini adalah untuk mengupdate dokumen yang berhubungan dengan adminstrasi guru dalam KTSP.
Dalam sambutan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam suasana liburan semester SMA Negeri 7 Yogyakarta dari tanggal 28 sampai dengan tanggal 30 Desember 2009 mengadakan kegiatan In House Training Pengkajian Pengembangan Kurikulum yang didahului dengan laporan ketua penyelenggara Drs. Bandono, MM. menyampaikan laporan tentang maksud dan tujuan diadakannya IHT ini adalah untuk mengupdate dokumen yang berhubungan dengan adminstrasi guru dalam KTSP.<span id="more-297"></span></p>
<p>Dalam sambutan kepala sekolah Drs. Mawardi menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta yang telah berkenan hadir untuk membuka dan mengisi materi dan kepada panitia dan guru yang merelakan waktu liburnya untuk mengikuti kegiatan IHT. Mudah-mudahan dengan kegiatan ini akan menambah pemahaman yang lebih luas dalam pengembangan KTSP. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan yang diwakili oleh Drs. Suyono sekaligus memberikan materi tentang kebijakan Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta .</p>
<p>Materi IHT meliputi Kebijakan Pendidikan Pemerintah Kota Yogyakarta yang disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Yogyakarta yang diwakili oleh Bapak Drs. Suyono, Pengembangan KTSP oleh Bapak Drs. Suwidyo (Pengawas) Analisis Konteks dan SK/KD Drs. Bandono, MM., Penyusunan Silabus dan RPP oleh Dra. Endang DI dan Lilik LIna Heni, S.Pd. Penilaian oleh Bapak Drs. Budi Iriyanto dilanjutkan dengan kerja kelompok dalam MGMP masing-masing.</p>
<p>Untuk memberikan bekal kepada guru SMA Negeri 7 Yogyakarta tentang media pembelajaran yang berbasis TIK oleh Bapak Drs. Puji Suharjoko, maka guru-guru diberikan materi WONDERSHARE QUIZ CREATOR Ver. 3  adalah sebuah program aplikasi pembelajaran mempunyai tampilan yang lebih familiar seperti Microsoft Office 2007. Software ini hanya merupakan salah satu dari banyak perangkat lunak penulisan quiz (soal), software lain seperti Articulate, Captivate, Camtasia, dll.  Naskah soal dapat dipublikasikan dalam bentuk soal online, offline, serta dapat ditransfer ke dokumen Word maupun dibakar kedalam  CD ROM sebagai media soal interaktif yang lebih menyenangkan. Wondershare Quiz Creator ver 3 ini mempunyai fasilitas (fitur) yang lebih lengkap, diantaranya fasilitas penulisan fungsi matematika serta kemampuannya dapat mengambil gambar atau teks dari berbagai software lain dengan cukup 3 kali klik!  Wondershare Quiz Creator memungkinkan kita menulis soal dalam 10 tipe yaitu :<br />
1.	True/False<br />
2.	Multiple Choise<br />
3.	Multiple Response<br />
4.	Fill in the Blank<br />
5.	Matching<br />
6.	Sequence<br />
7.	Word Bank<br />
8.	Click Map<br />
9.	Short Essay<br />
10.	Insert a Blank Page</p>
<img src="http://bandono.web.id/?ak_action=api_record_view&id=297&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bandono.web.id/2009/12/30/liburan-untuk-iht-wondershare-quiz-creator-ver-3.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SMA N 2 Rantai Pau Tanah Toraja Berkunjung ke SMAN 7 Yk</title>
		<link>http://bandono.web.id/2009/12/05/sma-n-2-rantai-pau-tanah-toraja-berkunjung-ke-sman-7-yk.php</link>
		<comments>http://bandono.web.id/2009/12/05/sma-n-2-rantai-pau-tanah-toraja-berkunjung-ke-sman-7-yk.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 03:56:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Drs. Bandono, MM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bandono.web.id/?p=295</guid>
		<description><![CDATA[Jum’at Legi 4 Desember 2009 SMA Negeri 2 Rantai Pau Tanah Toraja bersama kepala sekolah, pengawas wakil kepala sekolah guru mata pelajaran dan guru pembimbing berkunjung ke SMA Negeri 7 Yogyakarta dalam rangka studi banding tentang pelaksanaan SKM dan diterima oleh Bapak Drs Mawardi kepala sekolah SMA Negeri 7 Yogyakarta didampingi wakil kepala sekolah dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jum’at Legi 4 Desember 2009 SMA Negeri 2 Rantai Pau Tanah Toraja bersama kepala sekolah, pengawas wakil kepala sekolah guru mata pelajaran dan guru pembimbing berkunjung ke SMA Negeri 7 Yogyakarta dalam rangka studi banding tentang pelaksanaan SKM dan diterima oleh Bapak Drs Mawardi kepala sekolah SMA Negeri 7 Yogyakarta didampingi wakil kepala sekolah dan koordinator TIK dan SKM<span id="more-295"></span></p>
<p>Maksud dan tujuan kunjungan adalah ingin manajemen administrasi sekolah, proses pembelajaran dan sistem evaluasi, manajemen penyelenggaraan kurikulum, manajemen sistem informasi sekolah dan pemanfaatan ICT, manajemen perpustakaan sekolah serta hal-hal lain, peran dan fungsi komite sekolah dalam penyelenggaraan program sekolah. Model Pelaporan, Pembinaan Olimpiade, Hubungan lintas sektoral, Mitra kerja pendukung pembelajaran, Kegiatan ekstrakulikuler, Sistem pendanaan dan penggajian, Jenis kegiatan, Pengembangan sarana dan prasarana sumber dana, Prestasi Akademik, Output, Renstra dalam rangka pelakanaan SKM.</p>
<p>Dalam pertemuan antara SMA Negeri 7 Yogyakarta dan SMA Negeri 2 Rantai Pau banyak membicarakan tentang berbagai kendala pulang dan tantangan dalam pelaksanaan Sekolah Kategori Mandiri (SKM), terutama dalam proses pembelajaran moving class termasuk berbagai fasilitas yang disediakan oleh pihak sekolah bekerja sama dengan komite sekolah terutama daya dukung dan kontribusi komite dalam pelaksanaan belajar dan mengajar. Selesai diskusi dilanjutkan kunjungan ke lingkungan sekolah melihat secara dekat dan wawancara dengan berbagai unsur sivitas akademika</p>
<img src="http://bandono.web.id/?ak_action=api_record_view&id=295&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bandono.web.id/2009/12/05/sma-n-2-rantai-pau-tanah-toraja-berkunjung-ke-sman-7-yk.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SMAN 7 Yk Terima SMAN 1 Padangan</title>
		<link>http://bandono.web.id/2009/12/03/sman-7-yk-terima-sman-1-padangan.php</link>
		<comments>http://bandono.web.id/2009/12/03/sman-7-yk-terima-sman-1-padangan.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 03:54:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Drs. Bandono, MM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bandono.web.id/?p=293</guid>
		<description><![CDATA[Rabu Wage 2 Desember 2009 SMA Negeri 1 PAdangan Bojonegoro Jawa Timur berkunjung ke SMA Negeri 7 Yogyakarta dalam rangka studi banding tentang pelaksanaan SKM dan kegiatannya yang dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah Bapak Drs. Surojo dan diterima oleh Bapak Drs Mawardi kepala sekolah SMA Negeri 7 Yogyakarta didampingi waka humas (Supardjo, SP, S.Pd) dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rabu Wage 2 Desember 2009 SMA Negeri 1 PAdangan Bojonegoro Jawa Timur berkunjung ke SMA Negeri 7 Yogyakarta dalam rangka studi banding tentang pelaksanaan SKM dan kegiatannya yang dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah Bapak Drs. Surojo dan diterima oleh Bapak Drs Mawardi kepala sekolah SMA Negeri 7 Yogyakarta didampingi waka humas (Supardjo, SP, S.Pd) dan (Dra. Baniyah), wka kurikulum dan sarana prasarana (Lilik Lina Heni, S.Pd.) dan Koordinator ICT seveners Drs. Bandono, MM dan Amudiono, S.Pd. Fasilitator diruang ICT Center.<span id="more-293"></span></p>
<p>Maksud dan tujuan kunjungan dari SMA Negeri 1 Padangan adalah ingin manajemen administrasi sekolah, proses pembelajran dan sistem evaluasi, manajemen penyelenggaraan kurikulum, manajemen sistem informasi sekolah dan pemanfaatan ICT, manajemen perpustakaan sekolah serta hal-hal lain, peran dan fungsi komite sekolah dalam penyelenggaraan program sekolah. Model Pelaporan, Pembinaan Olimpiade, Hubungan lintas sektoral, Mitra kerja pendukung pembelajaran, Kegiatan ekstrakulikuler, Sistem pendanaan dan penggajian, Jenis kegiatan, Pengembangan sarana dan prasarana sumber dana, Prestasi Akademik, Output, Renstra dalam rangka pelakanaan SKM.</p>
<p>Dalam pertemuan antara SMA Negeri 7 Yogyakarta dan SMA Negeri 1 Padangan Bojonegoro dalam suasana yang tidak formal dan santai lebih banyak membicarakan tentang pelaksanaan Sekolah Kategori Mandiri (SKM), terutama dalam proses pembelajaran moving class termasuk berbagai fasilitas yang disediakan oleh pihak sekolah bekerja sama dengan komite sekolah dan kendala-kendala yang dialami oleh SMA Negeri 7 Yogyakarta diskusi berlangsung kurang lebih 4 jam. Akhir Pertemuan dilanjutkan saling tukar cindera mata dilanjutkan kunjungan ke masing-masing unit dan guru saling tukar pengalaman dalam proses pembelajaran</p>
<img src="http://bandono.web.id/?ak_action=api_record_view&id=293&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bandono.web.id/2009/12/03/sman-7-yk-terima-sman-1-padangan.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SMA N 7 Yogyakarta Klasifikasi Akreditasi A</title>
		<link>http://bandono.web.id/2009/12/01/sma-n-7-yogyakarta-klasifikasi-akreditasi-a.php</link>
		<comments>http://bandono.web.id/2009/12/01/sma-n-7-yogyakarta-klasifikasi-akreditasi-a.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 04:31:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Drs. Bandono, MM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seveners]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bandono.web.id/?p=291</guid>
		<description><![CDATA[Pada Senin Paing tanggal 30 Nopember 2009 Bapak Drs. H. Mawardi Kepala SMA Negeri 7 Yogyakarta menerima Surat Keputusan (SK) Akreditasi dari Badan Akreditasi Provinsi di DIY yang penyerahannya di lakukan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra Provinsi DIY Drs.Tavip Agus Rayanto.MSi mewakili Gebernur DIY Sri Sultan HB X di Bangsal Kepatihan, Yogyakarta.
Menurut Kepala Badan Akreditasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada Senin Paing tanggal 30 Nopember 2009 Bapak Drs. H. Mawardi Kepala SMA Negeri 7 Yogyakarta menerima Surat Keputusan (SK) Akreditasi dari Badan Akreditasi Provinsi di DIY yang penyerahannya di lakukan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra Provinsi DIY Drs.Tavip Agus Rayanto.MSi mewakili Gebernur DIY Sri Sultan HB X di Bangsal Kepatihan, Yogyakarta.<span id="more-291"></span></p>
<p>Menurut Kepala Badan Akreditasi Provinsi DIY Drs.Suhadi dalam laporannya menjelaskan bahwa kehgiatan Akreditasi  yang dilakukan Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah(BAPS/M)   tahun  2009 sesuai dengan pasal  87 PP Nomor 19 tahun 2005  Mendiknas menetapkan  Permen nomor 29 tahun 2005  tentang Badan Akreditasi Nasional  Sekolah/Madrasah. Dan sebagai tindak lanjut  dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tersebut  Gubernur DIY telah menetapkan  pembentukan Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah (BAPS/M) Provinsi DIY .  Sebagai implementasi peraturan dan  perundangan tersebut  BANS/M serta BAPS/M di Provinsi DIY  menyusun program kerja sebagai acuan  Akreditasi untuk Tingkat RA, TK, SD/MI, SMP/MTS, SLB,<br />
SMK, SMA/MA, yang ada di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta</p>
<p>Seusai menyerahkan SK Akreditasi bagi Sekolah RA, TK, SD/MI, SMP/MTS, SLB, SMK, SMA/MA, SMAK yang ada di Provinsi DIY tahun 2009 Gubernur DIY dalam sambutannya tertulis yang dibacakan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi DIY mengatakan bahwa Akreditasi sekolah merupakan legiatan penilaaian yang dilakukan oleh BAPS/M yang berwenang untuk menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan non formal di setiap jenjang dan jenis pendidikan, berdasarkan criteria yang telah ditetapkan. Kebijakan ini ditetapkan  tandas Gubernur DIY  sebagai bentuk akuntabilitas public yang dilakukan seacara obyektif, adil, tranasparan dan komprehensif dengan menggunakan instrument dan criteria yang mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan.  Dan hasil yang diperoleh dapat menggambarkan secera utuh kondisi ke;layakan atau potret Sekolah/Madrasah tesebut. Karena pelaksanaan Akreditasi Sekolah/Madrasah harus dipertanggungjawabkan baik dari sisi penilaian maupun kekhususannya, sesuai dengan aturan dan prosedur yang ditetapkan<br />
.<br />
Dengan diserahkannya SK Akreditasi sekolah ini Gubernur DIY Sri Sultan HB X melalui Tavip Agus Rayanto mengharapkan agar hasil akreditasi sekolah dan Madrasah ini dapat dijadikan sebaga acuan dalam upaya peningkatan mutu Sekolah/Madrasah dan rencana pengembangan Sekolah/Madrasah.  Selain itu lanjut Gubernur DIY juga dapat memotivasi  Sekolah/Madrasah untuk terus meningkatkan mutu pendidikan secara bertahap, terencana dan kompetetif, baik di tingkat Kabupaten/Kota, Provinsi, Nasional bahkan regional dan Internasional.</p>
<p>Adapun nilai akreditasi SMA Negeri 7 Yogyakarta untuk komponen ; 1) standar isi dengan nilai 91,67, 2) standar proses dengan nilai 80,00m  3) standar kompetensi lulusan dengan nilai 95,00, 4) standar pendidik dan tenaga kependidikan dengan nilai 90,00, 5) standar sarana dan prasarana dengan nilai 98,33, 6) standar pengelolaan dengan nilai 93,75, 7) standar pembiayaan dengan nilai 93,00, <img src='http://bandono.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> standar penilaian pendidikan dengan nilai 98,75 sehingga nilai akir adalah 92,70 dalam klasifikasi akreditas A (amat baik).</p>
<img src="http://bandono.web.id/?ak_action=api_record_view&id=291&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bandono.web.id/2009/12/01/sma-n-7-yogyakarta-klasifikasi-akreditasi-a.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keterampilan Berempati</title>
		<link>http://bandono.web.id/2009/11/20/keterampilan-berempati.php</link>
		<comments>http://bandono.web.id/2009/11/20/keterampilan-berempati.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 07:23:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Drs. Bandono, MM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bandono.web.id/?p=288</guid>
		<description><![CDATA[Empati merupakan salah satu kunci untuk dapat meningkatkan kualitas komunikasi antar individu. Empati berarti konselor dapat merasakan secara mendalam apa yang dirasakan oleh konseli tanpa kehilangan identitas dirinya. Keterampilan berempati dapat dipelajari. Konselor dapat memahami perasaan-perasaan konseli dengan melihat raut wajah dan bahasa isyarat tubuh, serta dengan mencermati bahasa verbalnya. Sejak kecil manusia telah mengenal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Empati merupakan salah satu kunci untuk dapat meningkatkan kualitas komunikasi antar individu. Empati berarti konselor dapat merasakan secara mendalam apa yang dirasakan oleh konseli tanpa kehilangan identitas dirinya. Keterampilan berempati dapat dipelajari. Konselor dapat memahami perasaan-perasaan konseli dengan melihat raut wajah dan bahasa isyarat tubuh, serta dengan mencermati bahasa verbalnya. Sejak kecil manusia telah mengenal emosi-emosi dasar seperti rasa senang/bahagia, sedih, marah, terkejut, jijik dan takut. Selain terdapat kesamaan antar budaya, cara-cara individu mengekspresikan perasaan-perasaan tersebut juga memiliki keunikan.<span id="more-288"></span></p>
<p>Empati merupakan kemampuan untuk memahami pribadi orang lain sebaik dia memahami dirinya sendiri. Tigkah laku empatik merupakan salah satu ketrampilan mendengarkan dengan penuh pemahaman (mendengarkan secara aktif). Seorang konselor hendaknya dapat menerima secara tepat makna dan perasan-perasaan konselinya. Konselor yang empatik mampu ”merayap di bawah kulit konseli dan melihat dunia melalui mata konseli, mampu mendengarkan konseli dengan tanpa prasangka dan tidak menilai (jelek) dan mampu mendengarkan cerita konseli dengan baik. Konselor yang empatik dapat merasakan kepedihan konseli tetapi dia tidak larut terhanyut karenannya. Dengan demikian konselor yang empatik mampu membaca tanda-tanda (isyarat, gesture, mimik) yang menggambarkan keadaan psikologis dan emosi yang sedang dialami orang lain. Orang yang empatik mampu merespon secara tepat kebutuhan-kebutuhan orang lain tanpa kehilangan kendali.</p>
<p>Sebagian individu terampil menhinterpretasikan ekspresi non verbal (ekspresi wajah, nada suara, bahasa tubuh) dan pikiran serta perasaan orang lain. Sementara orang lain tidak mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut sehingga tidak mampu menerapkan dirinya dalam diri  orang lain, tidak dapat memperkirakan apa yang sedang orang lain rasakan, dan tidak dapat memperkirakan apa yang orang lain senang lakukan. Hal demikian tentu sangat merugikan hubungan personal dengan orang lain. Individu dengan empati yang rendah, cenderung mengulangi pola-pola tingkah laku yang sama yang tidak menyenangkan orang lain, dan cenderung menyamaratakan perasaan dan keinginan orang lain.</p>
<p>Empati berbeda dengan simpati dan antipati. Apati berarti tidak peduli dan tidak melibatkan perasaan atau tidak menaruh minat dan perhatian terhadap seseorang atau beberapa orang. Seseorang yang apati terhadap sesuatu biasanya tidak mau melibatkan diri, dan biasanya memberikan pesan non verbal yang mengisyaratkan ketidakpedulian seperti ”Apa peduliku”, Ah, itu masalahmu, bukan urusanku dan lain sebagainya. Dalam masyarakat modern seperti sekarang ini, kita memang perlu bersikap apti untuk orang-orang tertentu. Artinya tidak mungkin kita harus menaruh peduli kepada semua orang yang kita jumpai padahal kita tidak mengenalnya. Akan tetapi jika kita terlalu apatis kita juga akan kehilangan hakekat kemanusiaan kita. Jika apati terjadi pada hubungan-hubungan antar individu yang bermakna maka akan sangat merusak hubungan tersebut.</p>
<p>Simpati adalah suatu keterlibatan emosi yang berlebihan kepada orang lain. Simpati dapat mengurangi kekuatan dan kemandirian konselor (sebagai helper)  dimana konselor menjadi tidak mampu memberi bantuan ketika dia sangat dibutuhkan.dan Orang yang simpati kadang kala dikuasai oleh kesedihan orang lain. Ada tendensi yang kuat bahwa simpati mudah tenggelam dalam suasana sentimentil. Sentimentil merupakan pengalaman emosional yang berlebihan yang dialami seseorang. Simpati bisa dikatakan sebagai perasaan untuk (feeling for) orang lain. Hal ini sangat berbeda dengan empati yang lebih bersifat ”feeling with” (perasaan bersama) orang lain.</p>
<p>Empati memiliki tiga komponen penting yaitu 1) pemahaman yang sensitif dan akurat tentang perasaan-perasaan orang lain sambil tetap menjaga agar dirinya tidak terlena menjadi orang lain 2) memahami situasi yang memicu perasaan-perasaan tersebut 3) mengkomunikasikan dengan orang lain dengan cara-cara yang membuat orang lain merasa diterima dan dipahami. Pengkomunikasian sikap-sikap empatik dapat dilakukan melalui verbal tingkah laku non verbal. Perlu dicatat bahwa dalam mengekspresikan sika-sikap empatik, kita harus tetap memperhatikan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku.</p>
<p>Sumber:  Suwarjo (2009) Praktik Keterampilan Konseling (Bahan PLPG) Yogyakarta: Univeristas Negeri Yogyakarta (UNY)</p>
<img src="http://bandono.web.id/?ak_action=api_record_view&id=288&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bandono.web.id/2009/11/20/keterampilan-berempati.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BK Sekolah Komprehensif</title>
		<link>http://bandono.web.id/2009/11/09/penyusunan-program-bk-sekolah-komprehensif.php</link>
		<comments>http://bandono.web.id/2009/11/09/penyusunan-program-bk-sekolah-komprehensif.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 02:09:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Drs. Bandono, MM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Konseling]]></category>
		<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bandono.web.id/?p=254</guid>
		<description><![CDATA[Melalui pemahaman dan penguasaan yang mendalam tentang asumsi pokok program BK yang bersifat komprehensif dan penjabaran dalam komponen-komponen program, maka konselor diharapkan dapat menyusun dan mengembangkan rencana aksi layanan BK dengan tujuan dan target terukur serta berdasarkan skala prioritas layanan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa seorang konselor harus menyadari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Melalui pemahaman dan penguasaan yang mendalam tentang asumsi pokok program BK yang bersifat komprehensif dan penjabaran dalam komponen-komponen program, maka konselor diharapkan dapat menyusun dan mengembangkan rencana aksi layanan BK dengan tujuan dan target terukur serta berdasarkan skala prioritas layanan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa seorang konselor harus menyadari sepenuhnya bahwa tujuan-tujuan yang akan ditetapkan dalam perencanaan program BK harus menjadi bagian integral dari tujuan pendidikan nasional pada umumnya dan visi/misi yang ada di sekolah secara khusus. Dengan demikian, petugas bimbingan dan konseling mampu dengan tepat menentukan bagaimana cara yang efektif untuk mencapai tujuan beserta sarana-sarana yang diperlukannya.<span id="more-254"></span></p>
<h3>Bimbingan dan Konseling sebagai Sistem dan Subsistem</h3>
<p>Berdasarkan asumsi dasar tentang sifat menyeluruh (komprehensif) program BK, kegiatan BK merupakan suatu rangkaian kegiatan yang saling bertalian, sambung-menyambung, dan setiap bagian memiliki ikatan kesatuan dengan bagian yang lain yang berorientasi pada pencapaian tujuan tertentu. Dengan demikian, kegiatan BK dapat dianggap sebagai subsistem dalam sistem pendidikan yang menjadi induknya. Rangkaian kegiatan BK pada akhirnya memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan rangkaian kegiatan sekolah lainnya.</p>
<p>Sementarai itu, BK sebagai suatu sistem  memiliki tiga aspek utama (Gunawan, 2001), yakni:</p>
<ol>
<li>Tujuan yang hendak dicapai sebagai aspek utama yang harus ditentukan terlebih dahulu. Penetapan tujuan akan memudahkan konselor menentukan strategi yang akan dikembangkan dalam rangka mencapai tujuan yang dimaksud</li>
<li>Kegiatan pokok yang menunjang langsung tercapainya tujuan. Bagian-bagian pokok dari suatu sistem dan strategi yang dikembangkan biasanya disebut sebagai penjabaran aktivitas dari suatu strategi yang di dalamnya terdapat aktivitas utama yang hendak dilakukan. Dengan kata lain, tercapainya tujuan hanya mungkin terjadi melalui implementasi kegiatan-kegiatan yang dimaksud. Kegiatan-kegiatan yang dikembangkan sebaiknya dirumuskan secara tepat sasaran dan dengan dampak yang terukur</li>
<li>Implementasi kegiatan (proses) atau berfungsinya isi dari suatu strategi yang mengarah pada pencapaian tujuan. Kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan semaksimal mungkin harus diusahakan dapat terlaksana sebaik mungkin.</li>
</ol>
<p>Ketiga aspek dari program BK sebagai sistem tersebut saling berkaitan dan satu kesatuan organis yang berproses menuju tujuan layanan ataupun program yang hendak dicapai. Dalam rangka itu, modul materi ini bermuara pada fasilitasi keterampilan praktis bagi konselor tentang prosedur penyusunan program BK yang memperhatikan berbagai asumsi dasar dan komponen layanan yang telah dijelaskan sebelumnya.</p>
<h3>Sistematika Penyusunan dan Pengembangan Program BK</h3>
<p>Sistematika penyusunan dan pengembangan program BK Sekolah yang komprehensif pada dasarnya terdiri dari dua langkah besar, yaitu: a) pemetaan kebutuhan, masalah, dan konteks layanan; dan b) desain program yang sesuai dengan kebutuhan, masalah, dan konteks layanan. Adapun penjabaran dari tiap-tiap langkah besar sebagai berikut:</p>
<p><strong>1. Desain Program BK dan Rencana Aksi (Action Plan)</strong></p>
<p>Berikut ini adalah penjabaran rencana operasional (action plan) yang diperlukan Action plan yang akan disusun paling tidak memenuhi unsur 5W+1H (what, why, where, who, when, and how). Dengan demikian, konselor dan petugas bimbingan perlu melakukan hal-hal berikut ini: 1)Identifikasikan dan rumuskan berbagai kegiatan yang harus/perlu dilakukan. Kegiatan ini diturunkan dari perilaku/tugas perkembangan/kompetensi yang harus dikuasai peserta didik.,2)Pertimbangkan porsi waktu yang diperlukan untuk melaksanakan setiap kegiatan di atas. Apakah kegiatan itu dilakukan dalam waktu tertentu atau terus menerus. Berapa banyak waktu yang diperlukan untuk melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling dalam setiap komponen program perlu dirancang dengan cermat.  Perencanaan waktu ini didasarkan kepada isi program dan dukungan manajemen yang harus dilakukan oleh konselor. Berikut dikemukakan tabel alokasi waktu, sekedar perkiraan atau pedoman relatif dalam pengalokasian waktu untuk konselor dalam pelaksanaan komponen pelayanan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah.,3)Inventarisasi kebutuhan yang diperoleh dari needs assessment ke dalam tabel kebutuhan yang akan menjadi rencana kegiatan. Rencana kegiatan dimaksud dituangkan ke dalam rancangan jadwal kegiatan untuk selama satu tahun. Rancangan ini bisa dalam bentuk matrik; Program Tahunan dan  Program semester.,4)Program bimbingan dan konseling Sekolah/Madrasah yang telah dituangkan ke dalam rencana kegiatan perlu dijadwalkan ke dalam bentuk kalender kegiatan. Kalender kegiatan mencakup kalender tahunan, semesteran, bulanan, dan mingguan.,5)Program bimbingan dan konseling perlu dilaksanakan dalam bentuk (a) kontak langsung, dan (b) tanpa kontak langsung dengan peserta didik. Untuk kegiatan kontak langsung yang dilakukan secara klasikal di kelas (pelayanan dasar) perlu dialokasikan waktu terjadwal 2 (dua) jam pelajaran per-kelas per-minggu. Adapun kegiatan bimbingan tanpa kontak langsung dengan peserta didik dapat dilaksanakan melalui tulisan (seperti e-mail, buku-buku, brosur, atau majalah dinding), kunjungan rumah (home visit),  konferensi kasus (case conference), dan alih tangan (referral).</p>
<p><strong>2. Pemetaan Kebutuhan, Masalah, dan Konteks Layanan</strong></p>
<p>Penyusunan program BK di sekolah haruslah dimulai dari kegiatan asesmen (pengukuran, penilaian) atau kegiatan mengidentifikasi aspek-aspek yang dijadikan bahan masukan bagi penyusunan program/layanan (Depdiknas, 2007). Kegiatan asesmen ini meliputi (1) asesmen konteks lingkungan program yang terkait dengan kegiatan mengidentifikasi harapan dan tujuan sekolah, orangtua, masyarakat, dan stakeholder pendidikan terlibat, sarana dan prasarana pendukung program bimbingan, kondisi dan kualifikasi konselor, serta kebijakan pimpinan sekolah; (2) asesmen kebutuhan dan masalah peserta didik yang menyangkut karakteristik peserta didik; seperti aspek fisik (kesehatan dan keberfungsiannya), kecerdasan, motivasi, sikap dan kebiasaan belajar, minat, masalah-masalah yang dihadapi, kepribadian, tugas perkembangan psikologis.</p>
<p>Melalui pemetaan ini diharapkan program dan layanan BK yang dikembangkan oleh konselor benar-benar dibutuhkan oleh seluruh segmen yang terlibat dan sesuai dengan konteks lingkungan program. Dengan kata lain, program dan kegiatan yang tertuang dalam rencana per semester ataupun tahunan bukan sekedar tuntutan administratif, melainkan tuntutan tanggung jawab yang sungguh harus dilaksanakan secara professional. Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh konselor dalam memetakan kebutuhan, masalah, dan konteks layanan: 1) Menyusun instrumen dan unit analisis penilaian kebutuhan. Eksplorasi peta kebutuhan, masalah, dan konteks membutuhkan instrument asesmen yang berfungsi sebagai alat bantu. Dalam instrumen ini, konselor merumuskan aspek dan indicator beserta item pernyataan/pertanyaan yang akan diukur dan jenis metode yang akan digunakan untuk mengungkap aspek dimaksud. Metode yang dapat digunakan, seperti observasi, wawancara, dokumentasi, dan sebagainya., 2) Implementasi penilaian kebutuhan. Pada tahap ini, konselor sesegera mungkin mengumpulkan data dengan menggunakan instrument yang telah dibuat sebelumnya dengan tujuan memperoleh gambaran kebutuhan dan konteks lingkungan yang akan dirumuskan ke dalam program lebih lanjut., 3)	Analisis hasil penilaian kebutuhan. Setelah data terkumpul, konselor mengolah, menganalisis, dan menginterpretasi hasil penilaian yang diungkap dengan tujuan kebutuhan, masalah, dan konteks program dapat teridentifikasi dengan tepat., 4) Pemetaan kebutuhan/permasalahan. Setelah hasil analisis dan identifikasi masalah terungkap, petugas BK dan konselor membuat peta kebutuhan/masalah yang dilengkapi dengan analisis faktor-faktor penyebab yang memunculkan kebutuhan/permasalahan</p>
<p>Sumber: Fathur Rahman (2009) Penyusunan Program BK di Sekolah (Bahan PLPG) Yogyakarta: Univeristas Negeri Yogyakarta (UNY)</p>
<img src="http://bandono.web.id/?ak_action=api_record_view&id=254&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bandono.web.id/2009/11/09/penyusunan-program-bk-sekolah-komprehensif.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kepala Sekolah Pertemuan di SMAN 7 Yk</title>
		<link>http://bandono.web.id/2009/11/07/kepala-sekolah-pertemuan-di-sman-7-yk.php</link>
		<comments>http://bandono.web.id/2009/11/07/kepala-sekolah-pertemuan-di-sman-7-yk.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 07:43:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Drs. Bandono, MM</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bandono.web.id/?p=252</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu Wage tanggal 7 Nopemebr 2009 Para Kepala Sekolah yang tergabung dalam MUSKA berkumpul di SMA Negeri 7 Yogyakarta adakan pertemuan rutin dengan menghadirkan Prof. Dr. Ki Supriyoko dalam rangka memberikan penyegaran kepada anggota MUSKA mengenai perkembangan pendidikan baik tingkat perguruan tinggi maupun di SMA yang ada dalam peringkat dunia dalam segi positifnya.
Dalam paparannya beliau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabtu Wage tanggal 7 Nopemebr 2009 Para Kepala Sekolah yang tergabung dalam MUSKA berkumpul di SMA Negeri 7 Yogyakarta adakan pertemuan rutin dengan menghadirkan Prof. Dr. Ki Supriyoko dalam rangka memberikan penyegaran kepada anggota MUSKA mengenai perkembangan pendidikan baik tingkat perguruan tinggi maupun di SMA yang ada dalam peringkat dunia dalam segi positifnya.<span id="more-252"></span></p>
<p>Dalam paparannya beliau mengupas tentang mutu pendidikan di SMA khusus nya di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mungkin secara peringkat kita kalah tetapi tingkat kejujuran di daerah kita adalah tinggi alias bagus. Bagaimana cara mengembangkan kualitas pendidikan SMA khususnya di Jogja perlu keterlibatan dari berbagai unsur baik dari sekolah itu sendiri maupun memperhatikan standar nasional yang tercermin dalam akeditasi yaitu 8 standar yang ada papar beliau di hadapan 70 kepala sekolah se- DIY.</p>
<p>Secara teknis beliau belum bisa memaparkan tapi di Propinsi DIY memiliki filosofi yang perlu dipahami insan pendidikan, masyarakat termasuk kepala sekolah dalam RPJPD tahun 2006 &#8211; 2025 yaitu &#8220;Memayu Hayuning Bawana&#8221; yang diterapkan dalam konsep Trihayu yaitu sarira, bangsa dan bawana (manungsa) dengan tetap memperhatikan visi pembangunan DIY (RPJPD 2006-2025 yaitu mewujudkan Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2025 sebagai pusat pendidikan, budaya dan daerah tujuan wisata terkemuka di Asia Tenggara dalam lingkungan masyarakat yang maju, mandiri dan sejahtera.</p>
<p>Untuk merealisasi dan mendukung mutu dan mewujudkan visi dan misi Propinsi DIY perlu adanya koordinasi antara SMA yang tergabung dalam MKKS (MUSKA) memberikan kontribusinya dalam dunia pendidikan.</p>
<p>Pada akhir pertemuan juga dibahas tentang berbagai kegiatan baik sifatnya sosial, akademis dalam rangka meningkatkan pendidikan di DIY dan peran MKKS memberikan sumbangan pemikiran khusus di dunia pendidikan.</p>
<img src="http://bandono.web.id/?ak_action=api_record_view&id=252&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bandono.web.id/2009/11/07/kepala-sekolah-pertemuan-di-sman-7-yk.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
